BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
merupakan disiplin ilmu terkait dengan pengetahuan alam secara luas. Pengetahuan
tersebut merupakan pengetahuan yang bersifat sistematis dan tersusun dengan menggabungkan
gejala-gejala alam. IPA dalam pembelajarannya berkaitan dengan cara mencari
tahu tentang alam semesta secara sistematis, sehingga IPA bukan kumpulan
fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja akan tetapi merupakan
suatu penemuan produk yang dihasilkan melalui metode ilmiah. Oleh karena itu,
proses pembelajaran IPA diharapkan dapat dilaksanakan melalui keterampilan
proses yang mengacu metode ilmiah. Proses pembelajaran IPA lebih ditekankan
pada pemberian pengalaman langsung agar peserta didik mampu memahami alam
sekiar melalui pendekatan pengalaman langsung agar dihasilkan suatu produk
berupa pengetahuan tentang fenomena alam.
Berdasarkan teori belajar
Piaget bahwa peserta didik sekolah dasar termasuk pada tahap operasional
konkret yaitu antara 7-11 tahun. Pada tahap ini merupakan permulaan berpikir
rasional, yang berarti anak memiliki operasi-operasi yang dapat diterapkannya
pada masalah-masalah konkret. Operasi-operasi dalam periode ini terikat pada
pengamalan perorangan. Operasi-operasi itu konkret bukan operasi-operasi
formal. Anak belum dapat berurusan dengan materi abstrak, seperti hipotesis dan
proposisi-proposisi verbal.[1]
Oleh karena itu Pembelajaran IPA di SD/MI sebaiknya peserta didik berkesempatan
menyentuh, melakukan tindakan, melihat, dan menggunakan sebagai media
pengamatan atau percobaan sehingga membantu peserta didik memahami konsep.
Sebagai mata pelajaran, IPA
memiliki potensi yang besar sebagai wahana pendidikan umum guna mengembangkan
berbagai kemampuan dan sikap seperti kemampuan berfikir tingkat tinggi,
kemampuan bekerja keras, mengasah keterampilan dasar, sikap jujur dan
berdisiplin. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, integrasi nilai dalam
proses pendidikan dapat ditafsirkan sebagai amanat UU Sisdiknas no. 20/2003
tentang tujuan pendidikan nasional:
“Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.”
Sebagai salah satu upaya
memperoleh pencapaian dari fungsi pendidikan sebagaimana disebutkan dalam UU
Sistem Pendidikan Nasioanl di atas, penanaman nilai-nilai keagamaan melalui
proses integrasi-interkoneksi konten al-Qur’an dalam berbagai disiplin keilmuan
merupakan opsi yang dapat ditawarkan, termasuk dalam disiplin ilmu sains.
Dengan penanaman nilai-nilai keagamaan tersebut diharapkan peserta didik tidak
hanya berpikir apa yang ada dan apa yang terjadi, melainkan juga dapat
merenungkan dan memahami bahwa ada sesuatu yang Maha Besar di balik peristiwa
kealaman atau fisis yang menjadi objek dalam ilmu sains.
Al-Faruqi menyimpulkan solusi
terhadap persoalan sistem pendidikan dualisme yang terjadi dalam kaum muslimin saat ini adalah dengan islamisasi
ilmu pengetahuan/sains. Sistem pendidikan harus dibenahi dan dualisme sistem
pendidikan harus dihapuskan dan disatukan dengan jiwa Islam dan berfungsi
sebagai bagian yang integral dari paradigma. Paradigma tersebut bukan imitasi
dari barat, bukan juga untuk semata-mata memenuhi kebutuhan ekonomi dan
pragmatis pelajar untuk ilmu pengetahuan profesional, kemajuan pribadi atau
pencapaian materi. Sistem pendidikan harus diisi dengan dengan sebuah misi,
yang tidak lain adalah menanamkan misi Islam, menancapkan hasrat untuk untuk
merealisasikan visi Islam dalam ruang dan waktu.[2]
Ide tentang integrasi ilmu agama
(Islam) dan ilmu pengetahuan (sains) masih cenderung sebagai wacana.
Artinya belum nampak adanya bukti nyata yang menunjukkan bahwa Islam dan
sains adalah terintegrasi atau dapat
diintegrasikan.[3]
Sebagai sebuah paradigma,
Islam (dengan al-Qur’an dan Sunnah) adalah sumber rujukan bagi setiap kerja
ilmu. Tentu, melalui pemahaman seperti ini ayat-ayat al-Qur’an dan Sunnah yang
berkaitan dengan ilmu meniscayakan untuk dielaborasikan secara saintifik sesuai
kebutuhan kerja ilmiah yang dibangun.
Di sini berarti Islam tidak
sekedar menjadi perspektif, atau sebagai pelengkap dari kajian ilmiah yang ada
dan apalagi kajian yang terpisah dari sains. Tetapi, jusru Islam harus
menjadi pengawal dari setiap kerja sains oleh setiap para ilmuan (guru
mata pelajaran).[4]
Islam haruslah menjadi
paradigma yang utuh (tidak parsial), sumber rujukan dan pengawal yang memberi
inspirasi utama bagi kerja ilmiah tersebut. Tentu, paradigma Islam ini
disesuaikan dengan berbagai disiplin ilmu (mata pelajaran) yang ada. Misalnya,
mata pelajaran IPA/Fisika harus bermula dari ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan
dengan fisika dan begitu yang lainnya. Di sini, maka perlu dilakukan “Grouping
Ayat” yang berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu tersebut.[5]
Upaya integrasi nilai islami
dalam mata pelajaran IPA perlu dilakukan walaupun potret di lapangan, guru
seringkali mendapatkan hambatan untuk melakukan inovasi tersebut dengan
berbagai jenis hambatan yang beragam. Misal salah satunya perlu ada upaya
merubah paradigma guru dalam memandang ilmu sains. Mereka seringkali
memandang pembelajaran IPA hanya ditujukan untuk penguasaan konsep belaka
sehingga aspek nilai seringkali tidak menjadi perhatian utama untuk dirumuskan
secara baik sebagai bagian dari tujuan pembelajaran.
Guru hendaknya tidak hanya
memperhatikan bagaimana peserta didik menguasai konsep atau pelajaran IPA yang
disampaikan. Tapi juga hendaknya mengintegrasikan nilai islami dalam pelajaran
IPA dengan mengenalkan bagaimana ayat-ayat al-Qur’an telah menjelaskan
kejadian/peristiwa yang berhubungan dengan pelajaran IPA yang diajarkan di
kelas.
Adanya integrasi Islam dan sains
dalam pembelajaran di sekolah, selain dapat memperkuat keimanan peserta
didik juga dapat memperbaiki akhlak dan hasil belajar peserta didik. Selain itu
yang tidak kalah pentingnya adalah dengan membiasakan integrasi Islam dan sains,
hal ini dapat menjadi filter bagi peserta didik akan dampak negatif dari
perkembangan dan kemajuan teknologi di era globalisasi sekarang ini. Pembelajaran
IPA dengan integrasi Islam menurut peneliti merupakan suatu langkah yang mulia
karena dapat mencapai dua tujuan sekaligus, yaitu memahamkan peserta didik
tentang konsep-konsep IPA dan menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan
Yang Maha Esa.
Suatu pembelajaran dikatakan
sukses jika proses pembelajaran berjalan dengan efektif, efisien dan menarik.
Dengan pembelajaran yang efektif, efiensi, dan menarik maka akan berpengaruh
pada hasil belajar peserta didik, mampu memotivasi peserta didik dalam belajar,
mudah mengingat kembali pelajaran dan menerapkan pengetahuan dan terampilan
yang dipelajari. Seorang guru hendaknya cakap dalam memilih sebuah metode dan
pendekatan emosional pada peserta didik, pengembangan bahan pelajaran dan
sebagainya.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa
pentingnya media, metode ataupun strategi dalam memberikan pelajaran kepada
peserta didik. sebagaimana terkandung dalam surat An-Nahl (16): 125.
äí÷$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ
125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah
dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat
dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk.
Surat An-Nahl ayat 125 di atas
menjelaskan bahwa Allah menyerukan kepada manusia dengan menggunakan thoriqoh
atau cara yang baik tanpa berbantah-bantahan agar manusia tidak tersesat dan
mendapat petunjuk. Jika maksud dari surah an-Nahl ayat 125 ialah menyerukan
manusia dengan thoriqoh atau cara yang baik, maka dalam dunia pendidikan
surah tadi menunjukkan bagaimana seharusnya cara atau metode mengajar yang baik
kepada peserta didik.
Analisis tafsir dari surah
an-Nahl ayat 125 menunjukkan ada tiga metode dalam mendidik, yaitu:
1.
Bil Hikmah (بالحكمة)
Metode
hikmah yaitu bagaimana guru sebagai pendidik menyampaikan pelajaran dengan
benar, baik dan jelas. Pembelajaran yang mewujudkan suasana kondusif yang
memungkinkan terjadinya interaksi edukatif yang mendorong semangat belajar
peserta didik sehingga dapat menerima dan memahami pelajaran, serta terwujudnya
komunikasi yang baik antara guru dan peserta didik. Untuk itu, guru dituntut menguasai
keadaan dan kondisi peserta didik di kelas dengan mengetahui karakteristik
peserta didik dengan baik sehingga guru dapat menentukan straregi pembelajaran
dan mengolah materi yang akan disampaikan dengan tepat agar memudahkan peserta
didik memahami pelajaran.
2. Metode Mau'idhotil
hasanah (والموعضة الحسنة)
Mau'idhotil hasanah diartikan pendidikan
yang baik. Yakni pendidikan yang diberikan melalui nasehat dan peringatan yang
baik dan benar, perkataan lemah lembut dan keikhlasan hati. Nasehat yang
diberikan dengan kelembutan dan kasih sayang. Menghindari bentakan dan
kekerasan serta menjauhi tindakan yang dapat berpengaruh pada fisik ataupun
bathin peserta didik. Anak atau peserta didik cenderung belajar melalui mengikuti
atau menirukan. Hal ini menunjukan pendidikan yang baik itu seharusnya selain
guru memberikan nasehat dengan cara yang baik dan guru juga harus menjadi
teladan yang baik yang akan dilihat dan ditirukan oleh peserta didik.
3. Metode Jidal (جادلهم بالتى هي احسن)
Jidal berasal dari kata
jadala artinya bertukar pikiran (berdialog), saling menyampaikan
pendapat dan pemikiran. Dalam proses pembelajaran guru dapat mengadakan
kegiatan tanya jawab dan diskusi. Melalui kegiatan tanya jawab guru dapat
merangsang perhatian peserta didik dengan stimulus yang menarik bagi peserta
didik terkait pelajaran yang telah diajarkan maupun pelajaran yang akan
diajarkan. Kemudian melalui kegiatan diskusi akan mengajarkan peserta didik
bagaimana menyampai tanggapan atau pertanyaan dengan baik, menghargai pendapat
orang lain, dan menjadi pendengar yang baik. Serta akan melatih peserta didik bagaimana
menyampaikan pertanyaan atau pendapat dengan baik, bagaimana menanggapi
pendapat orang lain dan belajar memecahkan masalah melalui diskusi. Dengan
kegiatan diskusi ini, pembelajaran akan berjalan aktif dengan berpusat pada
peserta didik sehingga pembelajaran akan berkesan bagi peserta didik.
Tiga metode diatas menunjukkan
bahwa pendidikan yang diajarkan dengan cara yang baik itu dimana dalam proses pembelajaran
seharusnya diwujudkan dengan suasana yang kondusif dan komunikatif sehingga
menimbulkan semangat dan minat peserta didik dalam belajar serta memudahkan
dalam memahami pelajaran. Pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara
aktif, menemukan masalah, kemudian belajar memecahkan masalah.
Model pembelajaran ASSURE
merupakan model pembelajaran yang mampu membuat peserta didik menjadi aktif dan
menghidupkan suasana kelas sehingga kelas tidak lagi menjadi membosankan. Hal
tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi sebagai media
pembelajaran. Teknologi tidak hanya memudahkan dalam pembelajaran tetapi juga
mampu meningkatkan rasa ingin tahu dan membuat peserta didik menjadi lebih
tertarik untuk mengikuti pembelajaran. Salah satu model yang dapat digunakan
yakni model pembelajaran ASSURE. ASSURE
merupakan singkatan dari Analyze characteristic (analisis karateristik), State objectives (menetapkan tujuan), Select method and media (memilih metode dan media), Utilize
materials (memanfaatkan bahan ajar),
Require learner participation (memaksimalkan
keterlibatan peserta didik), and Evaluate (evaluasi). Model ASSURE merupakan suatu model pembelajaran
yang berorientasi pada pemanfaatan media dan teknologi dalam menciptakan proses
dan aktivitas pembelajaran yang diinginkan.
Model ini pertama kali
dikembangkan oleh Heinich, Molenda, Russell, dan Smaldino pada tahun 1999 (ct.
in Lancaster, 2009). Secara konseptual, ASSURE membentuk sembilan proses
belajar yang disampaikan Gagne. Model ASSURE terdiri dari enam langkah dalam
merencanakan pembelajaran yang berdasarkan pada huruf ASSURE.[6]
Menurut Pribadi, model desain
pembelajaran ASSURE merupakan model
desain yang cukup sederhana untuk digunakan dalam menciptakan aktivitas
pembelajaran sukses. Langkah-langkah yang sistematis dan menyeluruh dalam melakukan
enam langkah model ASSURE dengan menganalisis karakteristik peserta didik;
menentukan tujuan pembelajaran atau kompetensi; memilih metode dan media
pembelajaran; melibatkan peserta didik dalam aktivitas pembelajaran; dan
melakukan evaluasi baik hasil belajar maupun evaluasi program akan menciptakan
program pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar, memotivasi,
meningkatkan retensi, dan membuat peserta didik mampu menerapkan pengetahuan
dan keterampilan yang dipelajari.[7]
Berdasarkan analisis buku
paket dan LKS mata pelajaran IPA pada kelas IV menunjukkan perlunya penggunaan media belajar agar dapat memudahkan peserta didik melihat gambaran
langsung dari materi yang diajarkan, pembelajaran di kelas yang melibatkan
langsung peserta didik secara aktif melalui kegiatan diskusi dan kegiatan
dimana melakukan peragaan demontrasi secara langsung dari guru kemudian
dilakukan oleh peserta didik. Karena itu menurut peneliti menggunakan model
ASSURE dapat memudahkan dalam menciptakan pembelajaran aktif dan menarik bagi
peserta didik.
Penelitian dari Rosmalia Eva
tentang pengaruh aplikasi model ASSURE terhadap motivasi dan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran
Geografi menunjuk hasil bahwa:
1.
Indikator angket yang menunjukkan perasaan senang
terhadap desain pembelajaran Geografi model ASSURE dengan pemilihan Model
Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dari 7 soal angket yang disebarkan
diperoleh rata-rata 88,31 (88%) dengan kategori sangat baik Dengan kata lain
peserta didik antusias dan senang dalam belajar Geografi dengan model ASSURE,
2.
Indikator angket peserta didik yang menunjukkan
ketertarikan terhadap tampilan gambar dan video dalam pembelajaran dari 8 soal
angket diperoleh rata-rata 75,76 (76%) dengan kategori sangat baik. Berdasarkan
rekapitulasi tersebut peserta didik merasa sangat tertarik dengan tampilan
gambardan video dalam materi Kerusakan Ling kungan Hidup dan Upaya
Pelestariannya;
3.
Indikator angket yang menunjukkan kesungguhan
dalam belajar materi Kerusakan Lingkungan Hidup dan Upaya Pelestarian
Lingkungan Hidup dari 8 soal angket diperoleh rata-rata 84,09 (84%) dengan
kategori sangat baik;
4.
Indikator angket yang menunjukkan keyakinan
peserta didik untuk memahami isi materi Kerusakan Lingkungan Hidup dan Upaya
Pelestarian Lingkungan Hidup dari 7 soal angket diperoleh rata-rata 85,28 (85%)
dengan kategori sangat baik.
Penelitian dari Haerul Muammar
dkk. tentang pengaruh model pembelajaran assure dan pengetahuan awal terhadap
hasil belajar IPA-Fisika peserta didik kelas VIII SMPN 22 Mataram juga menunjukan
bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran terhadap hasil belajar, terdapat
pengaruh pengetahuan awal terhadap hasil belajar, dan tidak terdapat interaksi
model pembelajaran dan pengetahuan awal. Terkait model pembelajaran, model
ASSURE lebih baik dari model
konvensional. Hal ini dapat dilihat bahwa nilai rata-rata model ASSURE lebih tinggi
dari model konvensional berdasarkan perhitungan N-Gain.
Kelas
|
Pengetahuan Awal
|
Nilai Rata-Rata
|
N-Gain
|
Eksperimen
|
Tinggi
|
84,23
|
0,60
|
Rendah
|
72,10
|
0,50
|
|
Kontrol
|
Tinggi
|
78,00
|
0,50
|
Rendah
|
55,60
|
0,30
|
Beberapa hasil penelitian di
atas menunjukkan adanya pengaruh model ASSURE terhadap minat dan hasil belajar
peserta didik. Berdasarkan latar belakang dan gambaran yang disebut di atas
peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh
Model ASSURE Berbasis Integrasi Islam dan Sains Terhadap Minat dan Hasil
Belajar IPA di SDN 1 Marindi”
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
masalah, maka dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:
1.
Apakah model ASSURE lebih efektif daripada model
konvensional dalam mempengaruhi minat dan hasil belajar peserta didik di SDN 1
Marindi?
2.
Apa saja kendala dalam implimentasi model ASSURE dengan
integrasi Islam ke dalam pembelajaran IPA di SDN 1 Marindi.
C.
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah
yang dikemukakan di atas penelitian bertujuan untuk mengetahui:
1. Perbedaan efektifitas
model ASSURE daripada model konvensional dalam mempengaruhi minat dan hasil
belajar peserta didik di SDN 1 Marindi
2. Kendala yang dihadapi
dalam implimentasi model ASSURE dengan integrasi Islam ke dalam pembelajaran
IPA di SDN 1 Marindi
D.
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini mempunyai
terbatasan diantaranya:
1.
Objek penelitian ini terbatas pada peserta peserta
didik kelas IV di SDN 1 Marindi
2.
Penelitian membahas model pembelajaran ASSURE pada
pembelajaran IPA dan pengaruhnya terhadap minat dan hasil belajar peserta didik
3.
Penelitian membahas proses pembelajaran yang
diintegrasikan dengan ayat-ayat al-Qur’an ke dalam materi IPA tentang Sumber
Daya Alam dan Lingkungan.
E.
Signifikansi Penelitian
1. Secara teoritis
Memberikan sumbangan pemikiran ilmiah untuk perkembangan pendidikan di
SDN 1 Marindi dalam mendesain pembelajaran IPA.
2. Secara praktis
a. Bagi Peneliti
Dapat memberikan pengalaman
ilmiah dalam melakukan penelitian ilmiah.
b. Bagi Guru
Sebagai dorongan untuk untuk mendesain pembelajaran IPA
yang kreatif dan inovatif sehingga mampu meningkatkan hasil belajar peserta
didik walaupun dalam kondisi yang tidak memadai untuk melakukan proses belajar
mengajar.
c. Bagi Sekolah
Sebagai penambah wawasan
dan informasi untuk pengembangan pendidikan di sekolah untuk perbaikan mutu
pendidikan.
F.
Hipotesis Penelitian
H0 : Tidak ada pengaruh signifikan
terhadap minat dan hasil belajar peserta didik SDN 1 Marindi yang menggunakan
model pembelajaran ASSURE dengan model pembelajaran konvensional.
H1 : Ada pengaruh signifikan
terhadap minat dan hasil belajar peserta didik SDN 1 Marindi yang menggunakan
model pembelajaran ASSURE dengan model pembelajaran konvensional.
G.
Originalitas Penelitian
Terkait dengan originalitas
penelitian ini, maka peneliti memunculkan beberapa penelitian tentang model pembelajaran ASSURE yang peneliti
anggap bisa menjadi dasar untuk penelitian ini, antara lain:
Penelitian yang dilakukan
Jayanti dkk. yang berjudul: Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran ASSURE
Berbantuan Media Audiovisual Terhadap Hasil Belajar Pkn Siswa Kelas V SD Gugus
IV Kediri, Tabanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang
signifikan hasil belajar PKn antara peserta didik yang dibelajarkan dengan
model pembelajaran ASSURE berbantuan media audiovisual dengan peserta didik
yang dibelajarkan secara konvensional berbantuan media audiovisual pada peserta
didik kelas V SD Gugus IV Kediri, Tabanan tahun ajaran 2013/2014.
Martha Sari dkk. dengan judul:
Pengaruh Model Pembelajaran ASSURE Berbasis Concept Mapping Terhadap
Hasil Belajar IPS Siswa Kelas V SD Gugus Letkol Wisnu Denpasar Utara. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS
antara peserta didik yang belajar melalui model pembelajaran ASSURE Berbasis
Concept Mapping dengan peserta didik yang belajar melalui pembelajaran
konvensional pada peserta didik kelas V SD Gugus Letkol Wisnu Denpasar Utara
Tahun Pelajaran 2013/2014.
Haerul Muammar dkk. yang
berjudul: Pengaruh Model Pembelajaran ASSURE dan Pengetahuan Awal Terhadap
Hasil Belajar IPA-Fisika Siswa Kelas VIII SMPN 22 Mataram. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh model ASSURE terhadap hasil belajar dan
perbedaan pengaruh pengetahuan awal tinggi dan rendah peserta didik terhadap
hasil belajar pada kelas VIII SMPN 22 Mataram.
Tesis Muh Nasekun yang
berjudul: Integrasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Pembelajaran IPS Sejarah Di
Kelas VIII Mts Ma’arif Wadas Kandangan
Temanggung Tahun Pelajaran 2014/2015. Tujuan penelitiannya untuk
mengetahui implementasi
pembelajaran IPS Sejarah
di kelas VIII yang diintegrasikan
dengan nilai-nilai Islam, untuk
mengetahui keunggulan dan
kelemahan pembelajaran
IPS Sejarah di Kelas
VIII yang diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam dan untuk mengetahui
perangkat sistem pembelajaran IPS Sejarah di kelas VIII yang diintegrasikan
dengan nilai-nilai Islam.
Aisha A. Othman, Crinela
Pislaru, dan Ahmed M. Impes (2014) dalam jurnalnya Improving the Quality of
Technology-Enhanced Learning for Computer Programming Courses. Menjelaskan
dasar pemikiran, perencanaan, pengembangan, dan penerapan langkah-langkah tentang
pembelajaran berbasis teknologi informasi/komputer (mencakup sumber multimedia
seperti simulasi, animasi, dan video) dengan menggunakan model ASSURE. Bentuk
pengajaran ini bisa digunakan pada peserta didik sebelum mereka menghadapi sesi
praktik di lab komputer, mempersiapkan
mereka dengan mengembangkan kemampuan teknik, dan menerapkan konsep serta teori
yang telah dijelaskan dalam pembelajaran melalui pelajaran tambahan dan
latihan. Disimpulkan bahwa menggunakan animasi komputer bisa membantu peserta
didik lebih memahami materi pelajaran yang rumit dan konsep yang sulit dalam
bermacam materi pelajaran komputer. Multimedia bisa menyampaikan informasi
secara efektif dan cepat kepada peserta didik serta bisa membuat peserta didik
tertarik dalam SBL (school-based learning).
H.
Definisi Operasional
1. Model pembelajaran ASSURE merupakan model yang
menggunakan teknologi secara sistematis dalam pembelajaran. Model ini berfokus
pada perencanaan teknologi yang memudahkan guru dalam merancang dan melakukan
perubahan pada lingkungan pendidikan yang nantinya akan mendukung peserta didik. Kelebihan model ini yakni mampu
menganalisis secara menyeluruh komponen-komponen dalam pembelajaran berupa
karakteristik peserta didik, rumusan tujuan belajar, strategi dan kegiatan
pembelajaran, hingga penilaian proses belajar. Selain itu juga mampu
meningkatkan partisipasi aktif peserta didik dengan memanfaatkan peranan
teknologi sehingga pembelajaran dapat menjadi lebih optimal.
2. Integrasi nilai dalam pembelajaran/pendidikan merupakan proses
bimbingan melalui suri tauladan guru yang berorientasi pada penanaman
nilai-nilai kehidupan yang di dalamnya mencakup nilai-nilai agama, budaya,
etika dan estetika menuju pembentukan peserta didik yang memiliki kecerdasan
spiritual-keagamaan, pengendalian diri, kepribadian yang utuh, berakhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, termasuk masyarakat dan negara. Integrasi nilai Islam dalam pembelajaran IPA
mengacu kepada pemahaman bahwa Ilmu pengetahuan apapun termasuk ilmu
pengetahuan alam adalah sarana menuju Tuhan, jika manusia sejak dini menyadari
bahwa kehidupan di dunia pada dasarnya untuk mencapai kehidupan di akhirat. Pada
akhirnya, segala macam ilmu pengetahuan yang memberikan kebaikan di dunia dan
di akhirat itu penting untuk dipelajari. Al-Ghazali menekankan perlunya manusia
membuat skala prioritas pendidikan dengan menempatkan ilmu agama dalam posisi
terpenting.
3. Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh peserta didik setelah
dilakukan aktifitas belajar. Hasil belajar terdiri dari kognitif, afektif dan
psikomotor. Pada penelitian ini, hasil belajar hanya dibatasi pada ranah
kognitif yang mengacu pada taksonomi Krathwol-Anderson meliputi C1-C6
(mengingat, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan membuat).
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode
penelitian kuantitatif eksperimen. Jenis penelitian ini adalah penelitian
kuantitatif-eksperimen karena penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif
dengan metode eksperimen. Penelitian ini berdesain “Posttest-Only Control
Design” yaitu desain penelitian dalam pengujian rumusan hipotesis hanya
menggunakan nilai post-test. Desain menempatkan subyek penelitian ke
dalam dua kelompok (kelas) yang dibedakan menjadi kategori kelas eksperimen dan
kelas kontrol. Pada kelas eksperimen diberi perlakuan yaitu pembelajaran dengan
menggunakan model ASSURE dan kelas kontrol dengan model konvensional.
B. Tempat Penelitian
Sekolah Dasar Negeri 1 Marindi berlokasi di desa Marindi
Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong. Dengan letak Sekolah yang cukup trategis,
karena berada tidak dari jalan yang mudah diakses, dan didukung oleh sarana dan
fasilitas yang cukup memadai serta guru dan tenaga kependidikan yang cukup sehingga
proses kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik.
C. Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Variabel Bebas (independen)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penerapan
model pembelajaran ASSURE. Adapun indikator model pembelajaran ASSURE dalam
penelitian ini tercantum pada tabel 3.1 berikut.
Tebal 3.1 Indikator Model ASSURE
No.
|
Desain ASSURE
|
Indikator
|
1
|
Analisis karakteristik peserta didik (Analize learner)
|
a. Karakteristik
umum : usia, jenis kelamin, keadaan sosial ekonomi dan tingkat kelas.
b. Analisis
kemampuan awal : rata-rata nilai ulangan semester lalu.
c. Gaya belajar :
|
2
|
Tujuan Pembelajaran (State Objectives)
|
a. Dengan
memperhatikan ABCD (Audience, Behaviour, Condition dan Degree).
b. Audience : kelas IV
c. Terkandung
dalam tujuan pembelajaran di dalam RPP
|
3
|
Strategi Media, Materi Ajar, Bahan Ajar
(Select methods, media and material)
|
a.
Pembelajaran kooperatif, metode Dikusi dan
tanya jawab
b.
Media Visual (Gambar/gambar hidup)
c.
Tema Lingkungan
Alam
d.
RPP, LKS, Ruangan kelas yang dilengkapi dengan
teknologi (laptop, LCD, speaker aktif dan lain-lain).
|
4
|
Menggunakan teknologi, media dan materi pembelajaran (Utilize
media and materials)
|
a. Pembelajaran
berlangsung di dalam kelas dengan menggunakan ketiganya dengan melibatkan
partisipasi peserta didik dalam pembelajaran untuk mempengaruhi
minat dan hasil
belajar belajar peserta didik.
|
5
|
Mengembangkan partisipasi peserta didik (Require learner
participation)
|
a. Pembelajaran
di kelas dengan melibatkan peserta didik di dalamnya (student centered)
sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah dilakukan sebelumnya. Tahapan yang
telah dilakukan yaitu mengetahui karakteristik peserta didik, menentukan
tujuan pembelajaran, menentukan metode, media dan materi pembelajaran.
Partisipasi peserta didik dalam pembelajaran dengan dibentuk kelompok diskusi
atau pembelajaran kooperatif dengan menampilkan media gambar pada materi
tentang lingkungan alam, cara memelihara alam, dan pengaruh kerusakan lingkungan
hidup.
|
6
|
Penilaian dan perbaikan (Evaluate and revise)
|
a. Hasil belajar
b. Penilaian KBM
(kegiatan belajar mengajar)
c. Perbaikan
dilakukan setelah mengujicobakan desain pembelajaran pada pertemuan pertama
dengan melihat temuan-temuan/kekurangan dalam pembelajaran.
|
Sedangkan indikator minat peserta didik dalam penelitian
tercantum pada tabel 3.2 berikut.
Tabel 3.2 Indikator Minat Peserta didik
No.
|
Minat Peserta Didik
|
Indikator
|
1
|
Perasaan senang
|
Peserta didik senang mengikuti pelajaran, tidak
ada perasaan bosan, dan hadir saat pelajaran.
|
2
|
Keterlibatan peserta didik
|
Peserta didik aktif dalam diskusi, aktif
bertanya, dan aktif menjawab pertanyaan dari guru.
|
3
|
Ketertarikan
|
Peserta didik antusias dalam mengikuti pelajaran,
tidak menunda tugas dari guru.
|
4
|
Perhatian peserta didik
|
Peserta didik mendengarkan penjelasan guru dan mencatat
materi.
|
2. Variabel Terikat (dependen)
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil
penerapan model ASSURE berbasis integrasi Islam dalam pembelajaran IPA melalui
tes tertulis dan minat peserta didik dalam pembelajaran IPA melalui angket.
D. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta
didik kelas IV SDN 1 Marindi dengan jumlah 40 anak yang terbagi menjadi dua kelas
yaitu, kelas IVa dan IVb. Penelitian ini jumlah populasinya adalah kurang dari
100 sehingga sampel yang digunakan adalah seluruh dari populasi yang ada yaitu,
seluruh peserta didik kelas IV dan penelitian ini dinamalan penelitian
populasi.
Penelitian ini melibatkan seluruh dari populasi yang ada,
terdiri dari dua kelas. Kelas pertama yaitu kelas IVa sebagai kelas eksperimen yang menggunakan
model ASSURE. Dan kelas kedua yaitu IVb sebagai kelas kontrol yang menggunakan
model konvensional.
E.
Pengumpulan
Data
Pengumpulan data dilakukan melalui tes untuk mengetahui
tes sebelum dan sesudah pembelajaran. Tes tersebut meliputi:
1. Tes Pengetahuan/Hasil Belajar
Tes adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam
rangka pengukuran dan penilaian. tes hasil belajar biasanya terdiri dari
sejumlah butir soal yang memiliki tingkat kesukaran tertentu (ada yang mudah,
sedang, dan sukar). Tes tersebut harus dapat dikerjakan oleh peserta didik
dalam waktu yang sudah ditentukan. Oleh karena itu, tes hasil belajar merupakan
power test. Maksudnya adalah mengukur kemampuan peserta didik dalam
menjawab pertanyaan atau permasalahan. Tes tertulis berupa pilihan ganda untuk
mengetahui pengaruh model ASSURE terhadap hasil belajar peserta didik.
2. Observasi Langsung
Observasi atau pengamatan yaitu kegiatan menghimpun data
atau informasi yang dilakukan dengan memperhatikan atau melihat dan
mendengarkan orang atau peristiwa dan hasilnya yang telah terungkap selanjutnya
dicatat. Observasi langsung dilakukan dalam kelas IV SDN 1 Marindi. Observasi
langsung dilakukan sebagai observasi awal untuk lebih mengetahui karakteristik
peserta didik dan mengetahui masalah yang mungkin akan dihadapi.
3. Dokumentasi
Studi dokumentasi yang dilakukan yaitu mengumpulkan
data-data berbentuk foto yang dilakukan selama penelitian dan hasil analisis
dokumen-dokumen yang dibuat oleh peneliti. Data yang dikumpulkan berupa hasil
belajar peserta didik kelas IV pada semester sebelumnya.
4. Wawancara
Wawancara dilakukan kepada guru untuk model konvensional
yang biasa digunakan guru dan juga untuk mengetahui karakteristik peserta didik
sebagai langkah awal dalam pelaksanaan model ASSURE serta kepada peserta didik
setelah pembelajaran dengan menggunakan model konvensional pada pembelajaran
IPA untuk mengetahui minat belajar peserta didik.
5. Angket
Angket merupakan sebuah daftar pertanyaan yang diberikan
kepada responden, yang didasarkan atas 1) Responden pertanyaan, 2) Setiap
responden menghadapi susunan dan cara pengisian yang sama atas pertanyaan yang
diajukan, 3) Responden mempunyai kebebasan memberi menjawab, 4) Dapat digunakan
untuk mengumpulkan data atau keterangan dari banyak responden dan dalam waktu
yang tepat. Responden diminta memberi pendapatnya/jawabannya dengan cara
mengisi kuesioner yang disediakan dan memilih salah satu jawaban yang
disediakan sesuai dengan petunjuk pengisian kuesioner/angket. Angket diajukan
setelah pelaksanaan pembelajaran untuk mengetahui pengaruhnya model ASSURE
dengan integrasi Islam dalam Pembelajaran IPA terhadap minat peserta didik.
G. Uji Validitas dan Reliabilitas
1. Validitas
Validitas butir dianalisis dengan
menggunakan rumus korelasi Product Moment Pearson dengan rumus sebagai
berikut.
Keterangan:
rxy : koefisien korelasi product
moment (antara X dan Y)
X : skor butir soal
Y : skor total
N : jumlah peserta didik[8]
Tingkat validitas suatu instrumen dapat diketahui dengan
cara mengkorelasikan setiap skor pada butir instrumen dengan skor total setelah
dikurangi skor butirnya sendiri. Untuk mempermudah pemahaman mengenai validasi
tes, berikut interpretasi validasi apakah instrumen tersebut valid atau tidak
valid.
Tabel 3.3. Kriteria Validitas Butir Soal
r
|
Kriteria
|
0
0.01-0.20
0.21-0.40
0.41-0.60
0.61-0.80
0.81-0.99
1
|
Tidak berkorelasi
Korelasi sangat
Rendah
Agak rendah
Cukup
Tinggi
Sangat tinggi
|
2. Reliabilitas
Reliabilitas untuk menunjukkan konsistensi suatu alat
pengukur di dalam pengukur gejala yang sama. Dalam mengukur reliabilitas
instrument digunakan rumus reliabilitas KR-20 Alpha-Cronbach sebagai
berikut.
Keterangan:
=
koefisien product moment
N = jumlah peserta didik
X =
skor item soal
Tabel 3.4.
Kriteria Reliabilitas Instrumen
Besarnya Nilai r
|
Kriteria
|
0,81 - 1,00
|
Tinggi
|
0,60 – 0,80
|
Cukup
|
0,40 – 0,60
|
Agak rendah
|
0,20 – 0,40
|
Rendah
|
0,00 – 0,20
|
Sangat rendah
|
3. Indeks Kesukaran
Uji kesukaran soal dilakukan
dengan bantuan dengan menggunakan program ANATES versi 4.0.2.Indeks kesukaran
diklasifikasikan seperti tabel berikut:
Tabel 3.5 Klasifikasi Tingkat Kesukaran
P-P
|
Klasifikasi
|
0,00 – 0,29
0,30 – 0,69
0,70 – 1,00
|
Soal Sukar
Soal Sedang
Soal Mudah
|
4. Daya Pembeda
Daya pembeda
dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut.
Keterangan:
J =
Jumlah peserta tes
=
Banyaknya peserta kelompok atas
=
Banyaknya peserta kelompok bawah
=
Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal benar
=
Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan
benar
P = Indek kesukaran
Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab
soal benar
Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab
soal benar[10]
Selanjutnya,
setelah mengetahui daya pembeda, untuk menginterpretasi kriteria indeks daya
pembeda disajikan pada tabel berikut.
Tabel 3.6
Kualifikasi Daya
Pembeda D
|
Kualifikasi
|
0,00 – 0,19
0,20 – 0,39
0,40 – 0,69
0,70 – 1,00
Negatif
|
Jelek
Cukup
Baik
Baik sekali
Tidak baik, harus dibuang
|
H. Analisis Data
Teknik analisis data ini berkenaan dengan pengelohan
data untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis penelitian jika H1
diterima maka terjadi pengaruh model ASSURE dengan integrasi Islam
terhadap minat dan hasil belajar peserta didik dan apabila H0 diterima maka tidak terjadi pengaruh model
ASSURE dengan integrasi Islam terhadap minat dan hasil belajar peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Abdusysyakir.
2006. Ada Matematika dalam Al-Qur’an. Malang: UIN-Malang Press.
Alias,
Nor Azizah dan Sulaiman Hashim. 2012. Instructional Technology Research Design
and Development. United State: Information Science Reference.
Arikunto,
Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Produk. Jakarta:
Renika Cipta.
A S
Hornby. 2010. Oxford Advanced Learning’s Dictionary Of Current English. New
York: Oxford University Press.
Barizi,
Ahmad. 2011. Pendidikan Integratif. Malang: UIN-Maliki Press.
Burhanuddin, Elita. 2009. Media. Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional.
Dahar,
Ratna Wilis. 1988. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Devi,
Poppy K., “Metode-metode dalam Pembelajaran IPA”,
http://ayahaiby.files.wordpress.com/2012/10/metode-dalam-pembelajaran1.pdf/,
19/02/2014.
Djamarah,
Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:
Renika Cipta.
Djumhana,
Nana. 2009. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Direktorat
Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI.
Jihad,
Asep. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.
Handrianto,
Budi.2010. Islamisasi Sains. Jakarta: Al-Kautsar.
Kurniawan, Endang dan Endah Mutaqimah. 2009. Penilaian. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Mindes, Gayle. 2006. Teaching Young Children Social
Studies. London: Preger
Publishers.
Prawiladilaga, Dewi Salma. 2007. Prinsip Desain Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media.
Pribadi, Benny Agus. 2009. Model Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Dian Rakyat.
______________. 2011. Model ASSURE untuk
Mendesain Pembelajaran Sukses. Jakarta:
PT Dian Rakyat.
Purwanto.
2009. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rahim, Farida. 2008. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Ross, Wayne
E. 2006. The Social
Studies Curriculum: Purposes, Problems, and Possibilities. New York: State University of New York
Press.
Rossidy,
Imron. 2008. Fenomena Flora dan Fauna dalam perspektif Al-qur’an.
Malang: UIN-Malang Press.
Ruhimat, Toto. 2011. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Sam’s, Rosma
Hartiny. 2010. Model PTK Teknik Bermain Konstruktif untuk Peningkatan Hasil
Belajar Matematika.Yogyakarta: Teras.
Slameto. 2003.
Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sugianto,
Agus. 2009. Pembelajaran IPA MI. Jakarta: LAPIS.
Sukmadinata,
Nana Syaodih. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT
Remaja Rosda Karya.
Sumiati dan Asra. 2009. Metode
Pembelajaran. Bandung: Wacana Prima.
Syah, Muhibbin.
2007. Psikologi Belajar. Jakarata: PT Raja Grafindo.
[1] Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar,
(Jakarta: Penerbit Erlangga, 1988), hlm. 185.
[2] Budi Handrianto, Islamisasi Sains,
(Jakarta: Al-Kautsar, 2010), hlm. 157.
[3] Abdusysyakir, Ada Matematika dalam al-Qur’an,
(Malang: UIN-Malang Press, 2006), hlm. 5.
[4] Ahmad Barizi, Pendidikan Integratif,
(Malang: UIN-Maliki Press,2011), hlm. 261.
[5] Barizi, Pendidikan Integratif, hlm.
261-262
[6] Nor Azizah Alias dan Sulaiman Hashim, Instructional
Technology Research Design and Development, (United State: Information
Science Reference, 2012), hlm. 64.
[7] Benny Agus Pribadi, Model ASSURE
untuk Mendesain Pembelajaran Sukses. (Jakarta: PT Dian Rakyat,
2011), hlm. 164-165.
[8] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Produk, (Jakarta: Renika Cipta, 2006), hlm. 170
[10] Arikunto,
Prosedur Penelitian, hlm. 75.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar