بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحيمِ

Ads Here

Senin, 13 Mei 2019

Pengaruh Model ASSURE Berbasis Integrasi Islam dan Sains Terhadap Minat dan Hasil Belajar IPA (Proposal Tesis)


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan disiplin ilmu terkait dengan pengetahuan alam secara luas. Pengetahuan tersebut merupakan pengetahuan yang bersifat sistematis dan tersusun dengan menggabungkan gejala-gejala alam. IPA dalam pembelajarannya berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam semesta secara sistematis, sehingga IPA bukan kumpulan fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja akan tetapi merupakan suatu penemuan produk yang dihasilkan melalui metode ilmiah. Oleh karena itu, proses pembelajaran IPA diharapkan dapat dilaksanakan melalui keterampilan proses yang mengacu metode ilmiah. Proses pembelajaran IPA lebih ditekankan pada pemberian pengalaman langsung agar peserta didik mampu memahami alam sekiar melalui pendekatan pengalaman langsung agar dihasilkan suatu produk berupa pengetahuan tentang fenomena alam.
Berdasarkan teori belajar Piaget bahwa peserta didik sekolah dasar termasuk pada tahap operasional konkret yaitu antara 7-11 tahun. Pada tahap ini merupakan permulaan berpikir rasional, yang berarti anak memiliki operasi-operasi yang dapat diterapkannya pada masalah-masalah konkret. Operasi-operasi dalam periode ini terikat pada pengamalan perorangan. Operasi-operasi itu konkret bukan operasi-operasi formal. Anak belum dapat berurusan dengan materi abstrak, seperti hipotesis dan proposisi-proposisi verbal.[1] Oleh karena itu Pembelajaran IPA di SD/MI sebaiknya peserta didik berkesempatan menyentuh, melakukan tindakan, melihat, dan menggunakan sebagai media pengamatan atau percobaan sehingga membantu peserta didik memahami konsep.
Sebagai mata pelajaran, IPA memiliki potensi yang besar sebagai wahana pendidikan umum guna mengembangkan berbagai kemampuan dan sikap seperti kemampuan berfikir tingkat tinggi, kemampuan bekerja keras, mengasah keterampilan dasar, sikap jujur dan berdisiplin. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, integrasi nilai dalam proses pendidikan dapat ditafsirkan sebagai amanat UU Sisdiknas no. 20/2003 tentang tujuan pendidikan nasional:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Sebagai salah satu upaya memperoleh pencapaian dari fungsi pendidikan sebagaimana disebutkan dalam UU Sistem Pendidikan Nasioanl di atas, penanaman nilai-nilai keagamaan melalui proses integrasi-interkoneksi konten al-Qur’an dalam berbagai disiplin keilmuan merupakan opsi yang dapat ditawarkan, termasuk dalam disiplin ilmu sains. Dengan penanaman nilai-nilai keagamaan tersebut diharapkan peserta didik tidak hanya berpikir apa yang ada dan apa yang terjadi, melainkan juga dapat merenungkan dan memahami bahwa ada sesuatu yang Maha Besar di balik peristiwa kealaman atau fisis yang menjadi objek dalam ilmu sains.
Al-Faruqi menyimpulkan solusi terhadap persoalan sistem pendidikan dualisme yang terjadi  dalam kaum muslimin saat ini adalah dengan islamisasi ilmu pengetahuan/sains. Sistem pendidikan harus dibenahi dan dualisme sistem pendidikan harus dihapuskan dan disatukan dengan jiwa Islam dan berfungsi sebagai bagian yang integral dari paradigma. Paradigma tersebut bukan imitasi dari barat, bukan juga untuk semata-mata memenuhi kebutuhan ekonomi dan pragmatis pelajar untuk ilmu pengetahuan profesional, kemajuan pribadi atau pencapaian materi. Sistem pendidikan harus diisi dengan dengan sebuah misi, yang tidak lain adalah menanamkan misi Islam, menancapkan hasrat untuk untuk merealisasikan visi Islam dalam ruang dan waktu.[2]
Ide tentang integrasi ilmu agama (Islam) dan ilmu pengetahuan (sains) masih cenderung sebagai wacana. Artinya belum nampak adanya bukti nyata yang menunjukkan bahwa Islam dan sains adalah terintegrasi  atau dapat diintegrasikan.[3]
Sebagai sebuah paradigma, Islam (dengan al-Qur’an dan Sunnah) adalah sumber rujukan bagi setiap kerja ilmu. Tentu, melalui pemahaman seperti ini ayat-ayat al-Qur’an dan Sunnah yang berkaitan dengan ilmu meniscayakan untuk dielaborasikan secara saintifik sesuai kebutuhan kerja ilmiah yang dibangun.
Di sini berarti Islam tidak sekedar menjadi perspektif, atau sebagai pelengkap dari kajian ilmiah yang ada dan apalagi kajian yang terpisah dari sains. Tetapi, jusru Islam harus menjadi pengawal dari setiap kerja sains oleh setiap para ilmuan (guru mata pelajaran).[4]
Islam haruslah menjadi paradigma yang utuh (tidak parsial), sumber rujukan dan pengawal yang memberi inspirasi utama bagi kerja ilmiah tersebut. Tentu, paradigma Islam ini disesuaikan dengan berbagai disiplin ilmu (mata pelajaran) yang ada. Misalnya, mata pelajaran IPA/Fisika harus bermula dari ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan fisika dan begitu yang lainnya. Di sini, maka perlu dilakukan “Grouping Ayat” yang berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu tersebut.[5]
Upaya integrasi nilai islami dalam mata pelajaran IPA perlu dilakukan walaupun potret di lapangan, guru seringkali mendapatkan hambatan untuk melakukan inovasi tersebut dengan berbagai jenis hambatan yang beragam. Misal salah satunya perlu ada upaya merubah paradigma guru dalam memandang ilmu sains. Mereka seringkali memandang pembelajaran IPA hanya ditujukan untuk penguasaan konsep belaka sehingga aspek nilai seringkali tidak menjadi perhatian utama untuk dirumuskan secara baik sebagai bagian dari tujuan pembelajaran.
Guru hendaknya tidak hanya memperhatikan bagaimana peserta didik menguasai konsep atau pelajaran IPA yang disampaikan. Tapi juga hendaknya mengintegrasikan nilai islami dalam pelajaran IPA dengan mengenalkan bagaimana ayat-ayat al-Qur’an telah menjelaskan kejadian/peristiwa yang berhubungan dengan pelajaran IPA yang diajarkan di kelas.
Adanya integrasi Islam dan sains dalam pembelajaran di sekolah, selain dapat memperkuat keimanan peserta didik juga dapat memperbaiki akhlak dan hasil belajar peserta didik. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah dengan membiasakan integrasi Islam dan sains, hal ini dapat menjadi filter bagi peserta didik akan dampak negatif dari perkembangan dan kemajuan teknologi di era globalisasi sekarang ini. Pembelajaran IPA dengan integrasi Islam menurut peneliti merupakan suatu langkah yang mulia karena dapat mencapai dua tujuan sekaligus, yaitu memahamkan peserta didik tentang konsep-konsep IPA dan menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Suatu pembelajaran dikatakan sukses jika proses pembelajaran berjalan dengan efektif, efisien dan menarik. Dengan pembelajaran yang efektif, efiensi, dan menarik maka akan berpengaruh pada hasil belajar peserta didik, mampu memotivasi peserta didik dalam belajar, mudah mengingat kembali pelajaran dan menerapkan pengetahuan dan terampilan yang dipelajari. Seorang guru hendaknya cakap dalam memilih sebuah metode dan pendekatan emosional pada peserta didik, pengembangan bahan pelajaran dan sebagainya.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa pentingnya media, metode ataupun strategi dalam memberikan pelajaran kepada peserta didik. sebagaimana terkandung dalam surat An-Nahl (16): 125.
äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ 
125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Surat An-Nahl ayat 125 di atas menjelaskan bahwa Allah menyerukan kepada manusia dengan menggunakan thoriqoh atau cara yang baik tanpa berbantah-bantahan agar manusia tidak tersesat dan mendapat petunjuk. Jika maksud dari surah an-Nahl ayat 125 ialah menyerukan manusia dengan thoriqoh atau cara yang baik, maka dalam dunia pendidikan surah tadi menunjukkan bagaimana seharusnya cara atau metode mengajar yang baik kepada peserta didik.
Analisis tafsir dari surah an-Nahl ayat 125 menunjukkan ada tiga metode dalam mendidik, yaitu:
1.      Bil Hikmah (بالحكمة)
Metode hikmah yaitu bagaimana guru sebagai pendidik menyampaikan pelajaran dengan benar, baik dan jelas. Pembelajaran yang mewujudkan suasana kondusif yang memungkinkan terjadinya interaksi edukatif yang mendorong semangat belajar peserta didik sehingga dapat menerima dan memahami pelajaran, serta terwujudnya komunikasi yang baik antara guru dan peserta didik. Untuk itu, guru dituntut menguasai keadaan dan kondisi peserta didik di kelas dengan mengetahui karakteristik peserta didik dengan baik sehingga guru dapat menentukan straregi pembelajaran dan mengolah materi yang akan disampaikan dengan tepat agar memudahkan peserta didik memahami pelajaran.
2.      Metode Mau'idhotil hasanah (والموعضة الحسنة)
Mau'idhotil hasanah diartikan pendidikan yang baik. Yakni pendidikan yang diberikan melalui nasehat dan peringatan yang baik dan benar, perkataan lemah lembut dan keikhlasan hati. Nasehat yang diberikan dengan kelembutan dan kasih sayang. Menghindari bentakan dan kekerasan serta menjauhi tindakan yang dapat berpengaruh pada fisik ataupun bathin peserta didik. Anak atau peserta didik cenderung belajar melalui mengikuti atau menirukan. Hal ini menunjukan pendidikan yang baik itu seharusnya selain guru memberikan nasehat dengan cara yang baik dan guru juga harus menjadi teladan yang baik yang akan dilihat dan ditirukan oleh peserta didik.
3.      Metode Jidal (جادلهم بالتى هي احسن)
Jidal berasal dari kata jadala artinya bertukar pikiran (berdialog), saling menyampaikan pendapat dan pemikiran. Dalam proses pembelajaran guru dapat mengadakan kegiatan tanya jawab dan diskusi. Melalui kegiatan tanya jawab guru dapat merangsang perhatian peserta didik dengan stimulus yang menarik bagi peserta didik terkait pelajaran yang telah diajarkan maupun pelajaran yang akan diajarkan. Kemudian melalui kegiatan diskusi akan mengajarkan peserta didik bagaimana menyampai tanggapan atau pertanyaan dengan baik, menghargai pendapat orang lain, dan menjadi pendengar yang baik. Serta akan melatih peserta didik bagaimana menyampaikan pertanyaan atau pendapat dengan baik, bagaimana menanggapi pendapat orang lain dan belajar memecahkan masalah melalui diskusi. Dengan kegiatan diskusi ini, pembelajaran akan berjalan aktif dengan berpusat pada peserta didik sehingga pembelajaran akan berkesan bagi peserta didik.
Tiga metode diatas menunjukkan bahwa pendidikan yang diajarkan dengan cara yang baik itu dimana dalam proses pembelajaran seharusnya diwujudkan dengan suasana yang kondusif dan komunikatif sehingga menimbulkan semangat dan minat peserta didik dalam belajar serta memudahkan dalam memahami pelajaran. Pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara aktif, menemukan masalah, kemudian belajar memecahkan masalah.
Model pembelajaran ASSURE merupakan model pembelajaran yang mampu membuat peserta didik menjadi aktif dan menghidupkan suasana kelas sehingga kelas tidak lagi menjadi membosankan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran. Teknologi tidak hanya memudahkan dalam pembelajaran tetapi juga mampu meningkatkan rasa ingin tahu dan membuat peserta didik menjadi lebih tertarik untuk mengikuti pembelajaran. Salah satu model yang dapat digunakan yakni model pembelajaran ASSURE. ASSURE merupakan singkatan dari Analyze characteristic (analisis karateristik), State objectives (menetapkan tujuan), Select method and media (memilih metode dan media), Utilize materials (memanfaatkan bahan ajar), Require learner participation (memaksimalkan keterlibatan peserta didik), and Evaluate (evaluasi). Model ASSURE merupakan suatu model pembelajaran yang berorientasi pada pemanfaatan media dan teknologi dalam menciptakan proses dan aktivitas pembelajaran yang diinginkan.
Model ini pertama kali dikembangkan oleh Heinich, Molenda, Russell, dan Smaldino pada tahun 1999 (ct. in Lancaster, 2009). Secara konseptual, ASSURE membentuk sembilan proses belajar yang disampaikan Gagne. Model ASSURE terdiri dari enam langkah dalam merencanakan pembelajaran yang berdasarkan pada huruf ASSURE.[6]
Menurut Pribadi, model desain pembelajaran ASSURE  merupakan model desain yang cukup sederhana untuk digunakan dalam menciptakan aktivitas pembelajaran sukses. Langkah-langkah yang sistematis dan menyeluruh dalam melakukan enam langkah model ASSURE dengan menganalisis karakteristik peserta didik; menentukan tujuan pembelajaran atau kompetensi; memilih metode dan media pembelajaran; melibatkan peserta didik dalam aktivitas pembelajaran; dan melakukan evaluasi baik hasil belajar maupun evaluasi program akan menciptakan program pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar, memotivasi, meningkatkan retensi, dan membuat peserta didik mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari.[7]
Berdasarkan analisis buku paket dan LKS mata pelajaran IPA pada kelas IV menunjukkan perlunya  penggunaan media belajar agar dapat  memudahkan peserta didik melihat gambaran langsung dari materi yang diajarkan, pembelajaran di kelas yang melibatkan langsung peserta didik secara aktif melalui kegiatan diskusi dan kegiatan dimana melakukan peragaan demontrasi secara langsung dari guru kemudian dilakukan oleh peserta didik. Karena itu menurut peneliti menggunakan model ASSURE dapat memudahkan dalam menciptakan pembelajaran aktif dan menarik bagi peserta didik.
Penelitian dari Rosmalia Eva tentang pengaruh aplikasi model ASSURE terhadap motivasi dan hasil  belajar peserta didik dalam pembelajaran Geografi menunjuk hasil bahwa:
1.      Indikator angket yang menunjukkan perasaan senang terhadap desain pembelajaran Geografi model ASSURE dengan pemilihan Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dari 7 soal angket yang disebarkan diperoleh rata-rata 88,31 (88%) dengan kategori sangat baik Dengan kata lain peserta didik antusias dan senang dalam belajar Geografi dengan model ASSURE,
2.      Indikator angket peserta didik yang menunjukkan ketertarikan terhadap tampilan gambar dan video dalam pembelajaran dari 8 soal angket diperoleh rata-rata 75,76 (76%) dengan kategori sangat baik. Berdasarkan rekapitulasi tersebut peserta didik merasa sangat tertarik dengan tampilan gambardan video dalam materi Kerusakan Ling kungan Hidup dan Upaya Pelestariannya;
3.      Indikator angket yang menunjukkan kesungguhan dalam belajar materi Kerusakan Lingkungan Hidup dan Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup dari 8 soal angket diperoleh rata-rata 84,09 (84%) dengan kategori sangat baik;
4.      Indikator angket yang menunjukkan keyakinan peserta didik untuk memahami isi materi Kerusakan Lingkungan Hidup dan Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup dari 7 soal angket diperoleh rata-rata 85,28 (85%) dengan kategori sangat baik.
Penelitian dari Haerul Muammar dkk. tentang pengaruh model pembelajaran assure dan pengetahuan awal terhadap hasil belajar IPA-Fisika peserta didik kelas VIII SMPN 22 Mataram juga menunjukan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran terhadap hasil belajar, terdapat pengaruh pengetahuan awal terhadap hasil belajar, dan tidak terdapat interaksi model pembelajaran dan pengetahuan awal. Terkait model pembelajaran, model ASSURE  lebih baik dari model konvensional. Hal ini dapat dilihat bahwa nilai rata-rata model ASSURE lebih tinggi dari  model konvensional berdasarkan perhitungan  N-Gain.
Kelas
Pengetahuan Awal
Nilai Rata-Rata
N-Gain

Eksperimen
Tinggi
84,23
0,60
Rendah
72,10
0,50
Kontrol
Tinggi
78,00
0,50
Rendah
55,60
0,30

Beberapa hasil penelitian di atas menunjukkan adanya pengaruh model ASSURE terhadap minat dan hasil belajar peserta didik. Berdasarkan latar belakang dan gambaran yang disebut di atas peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh Model ASSURE Berbasis Integrasi Islam dan Sains Terhadap Minat dan Hasil Belajar IPA di SDN 1 Marindi”

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:
1.      Apakah model ASSURE lebih efektif daripada model konvensional dalam mempengaruhi minat dan hasil belajar peserta didik di SDN 1 Marindi?
2.      Apa saja kendala dalam implimentasi model ASSURE dengan integrasi Islam ke dalam pembelajaran IPA di SDN 1 Marindi.




C.    Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas penelitian bertujuan untuk mengetahui:
1.      Perbedaan efektifitas model ASSURE daripada model konvensional dalam mempengaruhi minat dan hasil belajar peserta didik di SDN 1 Marindi
2.      Kendala yang dihadapi dalam implimentasi model ASSURE dengan integrasi Islam ke dalam pembelajaran IPA di SDN 1 Marindi

D.    Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini mempunyai terbatasan diantaranya:
1.      Objek penelitian ini terbatas pada peserta peserta didik kelas IV di SDN 1 Marindi
2.      Penelitian membahas model pembelajaran ASSURE pada pembelajaran IPA dan pengaruhnya terhadap minat dan hasil belajar peserta didik
3.      Penelitian membahas proses pembelajaran yang diintegrasikan dengan ayat-ayat al-Qur’an ke dalam materi IPA tentang Sumber Daya Alam dan Lingkungan.

E.     Signifikansi Penelitian
1.      Secara teoritis
Memberikan sumbangan pemikiran ilmiah untuk perkembangan pendidikan di SDN 1 Marindi dalam mendesain pembelajaran IPA.

2.      Secara praktis
a.       Bagi Peneliti
Dapat memberikan pengalaman ilmiah dalam melakukan penelitian ilmiah.
b.      Bagi Guru
Sebagai dorongan untuk untuk mendesain pembelajaran IPA yang kreatif dan inovatif sehingga mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik walaupun dalam kondisi yang tidak memadai untuk melakukan proses belajar mengajar.
c.       Bagi Sekolah
Sebagai penambah wawasan dan informasi untuk pengembangan pendidikan di sekolah untuk perbaikan mutu pendidikan.

F.     Hipotesis Penelitian
H0             : Tidak ada pengaruh signifikan terhadap minat dan hasil belajar peserta didik SDN 1 Marindi yang menggunakan model pembelajaran ASSURE dengan model pembelajaran konvensional.
H1                : Ada pengaruh signifikan terhadap minat dan hasil belajar peserta didik SDN 1 Marindi yang menggunakan model pembelajaran ASSURE dengan model pembelajaran konvensional.

G.    Originalitas Penelitian
Terkait dengan originalitas penelitian ini, maka peneliti memunculkan beberapa penelitian tentang  model pembelajaran ASSURE yang peneliti anggap bisa menjadi dasar untuk penelitian ini, antara lain:
Penelitian yang dilakukan Jayanti dkk. yang berjudul: Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran ASSURE Berbantuan Media Audiovisual Terhadap Hasil Belajar Pkn Siswa Kelas V SD Gugus IV Kediri, Tabanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar PKn antara peserta didik yang dibelajarkan dengan model pembelajaran ASSURE berbantuan media audiovisual dengan peserta didik yang dibelajarkan secara konvensional berbantuan media audiovisual pada peserta didik kelas V SD Gugus IV Kediri, Tabanan tahun ajaran 2013/2014.
Martha Sari dkk. dengan judul: Pengaruh Model Pembelajaran ASSURE Berbasis Concept Mapping Terhadap Hasil Belajar IPS Siswa Kelas V SD Gugus Letkol Wisnu Denpasar Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS antara peserta didik yang belajar melalui model pembelajaran ASSURE Berbasis Concept Mapping dengan peserta didik yang belajar melalui pembelajaran konvensional pada peserta didik kelas V SD Gugus Letkol Wisnu Denpasar Utara Tahun Pelajaran 2013/2014.
Haerul Muammar dkk. yang berjudul: Pengaruh Model Pembelajaran ASSURE dan Pengetahuan Awal Terhadap Hasil Belajar IPA-Fisika Siswa Kelas VIII SMPN 22 Mataram. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model ASSURE terhadap hasil belajar dan perbedaan pengaruh pengetahuan awal tinggi dan rendah peserta didik terhadap hasil belajar pada kelas VIII SMPN 22 Mataram.

Tesis Muh Nasekun yang berjudul: Integrasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Pembelajaran IPS Sejarah Di Kelas VIII Mts Ma’arif Wadas Kandangan  Temanggung Tahun Pelajaran 2014/2015. Tujuan penelitiannya untuk mengetahui implementasi  pembelajaran  IPS  Sejarah  di  kelas VIII yang diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam, untuk  mengetahui  keunggulan  dan  kelemahan    pembelajaran  IPS Sejarah  di  Kelas  VIII yang diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam dan untuk mengetahui perangkat sistem pembelajaran IPS Sejarah di kelas VIII yang diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam.
Aisha A. Othman, Crinela Pislaru, dan Ahmed M. Impes (2014) dalam jurnalnya Improving the Quality of Technology-Enhanced Learning for Computer Programming Courses. Menjelaskan dasar pemikiran, perencanaan, pengembangan, dan penerapan langkah-langkah tentang pembelajaran berbasis teknologi informasi/komputer (mencakup sumber multimedia seperti simulasi, animasi, dan video) dengan menggunakan model ASSURE. Bentuk pengajaran ini bisa digunakan pada peserta didik sebelum mereka menghadapi sesi praktik di lab komputer,  mempersiapkan mereka dengan mengembangkan kemampuan teknik, dan menerapkan konsep serta teori yang telah dijelaskan dalam pembelajaran melalui pelajaran tambahan dan latihan. Disimpulkan bahwa menggunakan animasi komputer bisa membantu peserta didik lebih memahami materi pelajaran yang rumit dan konsep yang sulit dalam bermacam materi pelajaran komputer. Multimedia bisa menyampaikan informasi secara efektif dan cepat kepada peserta didik serta bisa membuat peserta didik tertarik dalam SBL (school-based learning).

H.    Definisi Operasional
1.      Model pembelajaran ASSURE merupakan model yang menggunakan teknologi secara sistematis dalam pembelajaran. Model ini berfokus pada perencanaan teknologi yang memudahkan guru dalam merancang dan melakukan perubahan pada lingkungan pendidikan yang nantinya akan mendukung peserta didik. Kelebihan model ini yakni mampu menganalisis secara menyeluruh komponen-komponen dalam pembelajaran berupa karakteristik peserta didik, rumusan tujuan belajar, strategi dan kegiatan pembelajaran, hingga penilaian proses belajar. Selain itu juga mampu meningkatkan partisipasi aktif peserta didik dengan memanfaatkan peranan teknologi sehingga pembelajaran dapat menjadi lebih optimal.
2.      Integrasi nilai dalam pembelajaran/pendidikan merupakan proses bimbingan melalui suri tauladan guru yang berorientasi pada penanaman nilai-nilai kehidupan yang di dalamnya mencakup nilai-nilai agama, budaya, etika dan estetika menuju pembentukan peserta didik yang memiliki kecerdasan spiritual-keagamaan, pengendalian diri, kepribadian yang utuh, berakhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, termasuk masyarakat dan negara. Integrasi nilai Islam dalam pembelajaran IPA mengacu kepada pemahaman bahwa Ilmu pengetahuan apapun termasuk ilmu pengetahuan alam adalah sarana menuju Tuhan, jika manusia sejak dini menyadari bahwa kehidupan di dunia pada dasarnya untuk mencapai kehidupan di akhirat. Pada akhirnya, segala macam ilmu pengetahuan yang memberikan kebaikan di dunia dan di akhirat itu penting untuk dipelajari. Al-Ghazali menekankan perlunya manusia membuat skala prioritas pendidikan dengan menempatkan ilmu agama dalam posisi terpenting.
3.      Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh peserta didik setelah dilakukan aktifitas belajar. Hasil belajar terdiri dari kognitif, afektif dan psikomotor. Pada penelitian ini, hasil belajar hanya dibatasi pada ranah kognitif yang mengacu pada taksonomi Krathwol-Anderson meliputi C1-C6 (mengingat, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan membuat).



BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Rancangan Penelitian
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif eksperimen. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif-eksperimen karena penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen. Penelitian ini berdesain “Posttest-Only Control Design” yaitu desain penelitian dalam pengujian rumusan hipotesis hanya menggunakan nilai post-test. Desain menempatkan subyek penelitian ke dalam dua kelompok (kelas) yang dibedakan menjadi kategori kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada kelas eksperimen diberi perlakuan yaitu pembelajaran dengan menggunakan model ASSURE dan kelas kontrol dengan model konvensional.

B.     Tempat Penelitian
Sekolah Dasar Negeri 1 Marindi berlokasi di desa Marindi Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong. Dengan letak Sekolah yang cukup trategis, karena berada tidak dari jalan yang mudah diakses, dan didukung oleh sarana dan fasilitas yang cukup memadai serta guru dan tenaga kependidikan yang cukup sehingga proses kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik.



C.    Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Variabel Bebas (independen)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran ASSURE. Adapun indikator model pembelajaran ASSURE dalam penelitian ini tercantum pada tabel 3.1 berikut.
Tebal 3.1 Indikator Model ASSURE
No.
Desain ASSURE
Indikator
1
Analisis karakteristik peserta didik (Analize learner)
a.  Karakteristik umum : usia, jenis kelamin, keadaan sosial ekonomi dan tingkat kelas.
b.  Analisis kemampuan awal : rata-rata nilai ulangan semester lalu.
c.  Gaya belajar :  
2
Tujuan Pembelajaran (State Objectives)
a.  Dengan memperhatikan ABCD (Audience, Behaviour, Condition dan Degree).
b.  Audience : kelas IV
c.  Terkandung dalam tujuan pembelajaran di dalam RPP
3
Strategi Media, Materi Ajar, Bahan Ajar
(Select methods, media and material)
a.  Pembelajaran kooperatif, metode Dikusi dan tanya jawab
b.  Media Visual (Gambar/gambar hidup)
c.  Tema Lingkungan Alam
d.  RPP, LKS, Ruangan kelas yang dilengkapi dengan teknologi (laptop, LCD, speaker aktif dan lain-lain).
4
Menggunakan teknologi, media dan materi pembelajaran (Utilize media and materials)
a.  Pembelajaran berlangsung di dalam kelas dengan menggunakan ketiganya dengan melibatkan partisipasi peserta didik dalam pembelajaran untuk mempengaruhi minat dan hasil belajar belajar peserta didik.
5
Mengembangkan partisipasi peserta didik (Require learner participation)
a.  Pembelajaran di kelas dengan melibatkan peserta didik di dalamnya (student centered) sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah dilakukan sebelumnya. Tahapan yang telah dilakukan yaitu mengetahui karakteristik peserta didik, menentukan tujuan pembelajaran, menentukan metode, media dan materi pembelajaran. Partisipasi peserta didik dalam pembelajaran dengan dibentuk kelompok diskusi atau pembelajaran kooperatif dengan menampilkan media gambar pada materi tentang lingkungan alam, cara memelihara alam, dan pengaruh kerusakan lingkungan hidup.
6
Penilaian dan perbaikan (Evaluate and revise)
a.  Hasil belajar
b.  Penilaian KBM (kegiatan belajar mengajar)
c.  Perbaikan dilakukan setelah mengujicobakan desain pembelajaran pada pertemuan pertama dengan melihat temuan-temuan/kekurangan dalam pembelajaran.

Sedangkan indikator minat peserta didik dalam penelitian tercantum pada tabel 3.2 berikut.
Tabel 3.2 Indikator Minat Peserta didik
No.
Minat Peserta Didik
Indikator
1
Perasaan senang
Peserta didik senang mengikuti pelajaran, tidak ada perasaan bosan, dan hadir saat pelajaran.
2
Keterlibatan peserta didik
Peserta didik aktif dalam diskusi, aktif bertanya, dan aktif menjawab pertanyaan dari guru.
3
Ketertarikan
Peserta didik antusias dalam mengikuti pelajaran, tidak menunda tugas dari guru.
4
Perhatian peserta didik
Peserta didik mendengarkan penjelasan guru dan mencatat materi.

2.      Variabel Terikat (dependen)
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil penerapan model ASSURE berbasis integrasi Islam dalam pembelajaran IPA melalui tes tertulis dan minat peserta didik dalam pembelajaran IPA melalui angket.


D.    Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas IV SDN 1 Marindi dengan jumlah 40 anak yang terbagi menjadi dua kelas yaitu, kelas IVa dan IVb. Penelitian ini jumlah populasinya adalah kurang dari 100 sehingga sampel yang digunakan adalah seluruh dari populasi yang ada yaitu, seluruh peserta didik kelas IV dan penelitian ini dinamalan penelitian populasi.
Penelitian ini melibatkan seluruh dari populasi yang ada, terdiri dari dua kelas. Kelas pertama yaitu kelas IVa  sebagai kelas eksperimen yang menggunakan model ASSURE. Dan kelas kedua yaitu IVb sebagai kelas kontrol yang menggunakan model konvensional.

E.     Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui tes untuk mengetahui tes sebelum dan sesudah pembelajaran. Tes tersebut meliputi:
1.      Tes Pengetahuan/Hasil Belajar
Tes adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian. tes hasil belajar biasanya terdiri dari sejumlah butir soal yang memiliki tingkat kesukaran tertentu (ada yang mudah, sedang, dan sukar). Tes tersebut harus dapat dikerjakan oleh peserta didik dalam waktu yang sudah ditentukan. Oleh karena itu, tes hasil belajar merupakan power test. Maksudnya adalah mengukur kemampuan peserta didik dalam menjawab pertanyaan atau permasalahan. Tes tertulis berupa pilihan ganda untuk mengetahui pengaruh model ASSURE terhadap hasil belajar peserta didik.
2.      Observasi Langsung
Observasi atau pengamatan yaitu kegiatan menghimpun data atau informasi yang dilakukan dengan memperhatikan atau melihat dan mendengarkan orang atau peristiwa dan hasilnya yang telah terungkap selanjutnya dicatat. Observasi langsung dilakukan dalam kelas IV SDN 1 Marindi. Observasi langsung dilakukan sebagai observasi awal untuk lebih mengetahui karakteristik peserta didik dan mengetahui masalah yang mungkin akan dihadapi.
3.      Dokumentasi
Studi dokumentasi yang dilakukan yaitu mengumpulkan data-data berbentuk foto yang dilakukan selama penelitian dan hasil analisis dokumen-dokumen yang dibuat oleh peneliti. Data yang dikumpulkan berupa hasil belajar peserta didik kelas IV pada semester sebelumnya.
4.      Wawancara
Wawancara dilakukan kepada guru untuk model konvensional yang biasa digunakan guru dan juga untuk mengetahui karakteristik peserta didik sebagai langkah awal dalam pelaksanaan model ASSURE serta kepada peserta didik setelah pembelajaran dengan menggunakan model konvensional pada pembelajaran IPA untuk mengetahui minat belajar peserta didik.
5.      Angket
Angket merupakan sebuah daftar pertanyaan yang diberikan kepada responden, yang didasarkan atas 1) Responden pertanyaan, 2) Setiap responden menghadapi susunan dan cara pengisian yang sama atas pertanyaan yang diajukan, 3) Responden mempunyai kebebasan memberi menjawab, 4) Dapat digunakan untuk mengumpulkan data atau keterangan dari banyak responden dan dalam waktu yang tepat. Responden diminta memberi pendapatnya/jawabannya dengan cara mengisi kuesioner yang disediakan dan memilih salah satu jawaban yang disediakan sesuai dengan petunjuk pengisian kuesioner/angket. Angket diajukan setelah pelaksanaan pembelajaran untuk mengetahui pengaruhnya model ASSURE dengan integrasi Islam dalam Pembelajaran IPA terhadap minat peserta didik.

G.    Uji Validitas dan Reliabilitas
1.      Validitas
Validitas butir dianalisis dengan menggunakan rumus korelasi Product Moment Pearson dengan rumus sebagai berikut.
Keterangan:
rxy : koefisien korelasi product moment (antara X dan Y)
X : skor butir soal
Y : skor total
N : jumlah peserta didik[8]

Tingkat validitas suatu instrumen dapat diketahui dengan cara mengkorelasikan setiap skor pada butir instrumen dengan skor total setelah dikurangi skor butirnya sendiri. Untuk mempermudah pemahaman mengenai validasi tes, berikut interpretasi validasi apakah instrumen tersebut valid atau tidak valid.
Tabel 3.3. Kriteria Validitas Butir Soal
r
Kriteria
0
0.01-0.20
0.21-0.40
0.41-0.60
0.61-0.80
0.81-0.99
1
Tidak berkorelasi
Korelasi sangat
Rendah
Agak rendah
Cukup
Tinggi
Sangat tinggi

2.      Reliabilitas
Reliabilitas untuk menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di dalam pengukur gejala yang sama. Dalam mengukur reliabilitas instrument digunakan rumus reliabilitas KR-20 Alpha-Cronbach sebagai berikut.

Keterangan:
                 = koefisien product moment
                                           N   = jumlah peserta didik
                                           X   = skor item soal
                                           Y   = skor total peserta didik[9]

Tabel 3.4. Kriteria Reliabilitas Instrumen
Besarnya Nilai r
Kriteria
0,81 - 1,00
Tinggi
0,60 – 0,80
Cukup
0,40 – 0,60
Agak rendah
0,20 – 0,40
Rendah
0,00 – 0,20
Sangat rendah

3.      Indeks Kesukaran
Uji kesukaran soal dilakukan dengan bantuan dengan menggunakan program ANATES versi 4.0.2.Indeks kesukaran diklasifikasikan seperti tabel berikut:
Tabel 3.5  Klasifikasi Tingkat Kesukaran
P-P
Klasifikasi
0,00 – 0,29
0,30 – 0,69
0,70 – 1,00
Soal Sukar
Soal Sedang
Soal Mudah



4.      Daya Pembeda
Daya pembeda dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut.
Keterangan:

J           = Jumlah peserta tes
         = Banyaknya peserta kelompok atas
         = Banyaknya peserta kelompok bawah
        = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal benar
        = Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar
P          = Indek kesukaran
 Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab soal benar
 Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab soal benar[10]

Selanjutnya, setelah mengetahui daya pembeda, untuk menginterpretasi kriteria indeks daya pembeda disajikan pada tabel berikut.



Tabel 3.6 Kualifikasi Daya
Pembeda D
Kualifikasi
0,00 – 0,19
0,20 – 0,39
0,40 – 0,69
0,70 – 1,00
Negatif
Jelek
Cukup
Baik
Baik sekali
Tidak baik, harus dibuang

H.    Analisis Data
Teknik analisis data ini berkenaan dengan pengelohan data untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis penelitian jika H1 diterima maka terjadi pengaruh model ASSURE dengan integrasi Islam terhadap minat dan hasil belajar peserta didik dan apabila H0  diterima maka tidak terjadi pengaruh model ASSURE dengan integrasi Islam terhadap minat dan hasil belajar peserta didik.





















DAFTAR PUSTAKA

Abdusysyakir. 2006. Ada Matematika dalam Al-Qur’an. Malang: UIN-Malang Press.
Alias, Nor Azizah dan Sulaiman Hashim. 2012. Instructional Technology Research Design and Development. United State: Information Science Reference.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Produk. Jakarta: Renika Cipta.
A S Hornby. 2010. Oxford Advanced Learning’s Dictionary Of Current English. New York: Oxford University Press.
Barizi, Ahmad. 2011. Pendidikan Integratif. Malang: UIN-Maliki Press.
Burhanuddin, Elita. 2009. Media. Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional.
Dahar, Ratna Wilis. 1988. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Devi, Poppy K., “Metode-metode dalam Pembelajaran IPA”, http://ayahaiby.files.wordpress.com/2012/10/metode-dalam-pembelajaran1.pdf/, 19/02/2014.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Renika Cipta.
Djumhana, Nana. 2009. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI.
Jihad, Asep. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.
Handrianto, Budi.2010. Islamisasi Sains. Jakarta: Al-Kautsar.
Kurniawan, Endang dan Endah Mutaqimah. 2009. Penilaian. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Mindes, Gayle. 2006. Teaching Young Children Social Studies. London: Preger Publishers.
Prawiladilaga, Dewi Salma. 2007. Prinsip Desain Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media.
Pribadi, Benny Agus. 2009. Model Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Dian Rakyat.
______________. 2011. Model ASSURE untuk Mendesain Pembelajaran Sukses. Jakarta: PT Dian Rakyat.
Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rahim, Farida. 2008. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Ross, Wayne E. 2006. The Social Studies Curriculum: Purposes, Problems, and Possibilities. New York: State University of New York Press.
Rossidy, Imron. 2008. Fenomena Flora dan Fauna dalam perspektif Al-qur’an. Malang: UIN-Malang Press.
Ruhimat, Toto. 2011. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Sam’s, Rosma Hartiny. 2010. Model PTK Teknik Bermain Konstruktif untuk Peningkatan Hasil Belajar Matematika.Yogyakarta: Teras.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sugianto, Agus. 2009. Pembelajaran IPA MI. Jakarta: LAPIS.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Sumiati dan Asra. 2009. Metode Pembelajaran. Bandung: Wacana Prima.
Syah, Muhibbin. 2007. Psikologi Belajar. Jakarata: PT Raja Grafindo.



[1] Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1988), hlm. 185.
[2] Budi Handrianto, Islamisasi Sains, (Jakarta: Al-Kautsar, 2010),  hlm. 157.
[3] Abdusysyakir, Ada Matematika dalam al-Qur’an, (Malang: UIN-Malang Press, 2006), hlm. 5.
[4] Ahmad Barizi, Pendidikan Integratif, (Malang: UIN-Maliki Press,2011), hlm. 261.
[5] Barizi, Pendidikan Integratif, hlm. 261-262
[6] Nor Azizah Alias dan Sulaiman Hashim, Instructional Technology Research Design and Development, (United State: Information Science Reference, 2012), hlm. 64.
[7] Benny Agus Pribadi, Model ASSURE untuk Mendesain Pembelajaran Sukses. (Jakarta: PT Dian Rakyat, 2011), hlm. 164-165.
[8] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Produk, (Jakarta: Renika Cipta, 2006), hlm. 170
[9] Arikunto, Prosedur Penelitian, hlm. 146.
[10] Arikunto, Prosedur Penelitian, hlm. 75.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar