BAB
I
PENDAHULUAN
Salah
satu unsur universal kebudayaan adalah kesenian. Karya seni sebagai karya
budaya yang luhur mengandung nilai-nilai keindahan. Karena itu menciptakan seni
bukan sekedar improvisasi melainkan idealisme keindahan yang tinggi.
Tak
bisa disangkal, bahwa seni maupun budaya pada hakikatnya selalu menyentuh aspek
dasariah manusia yang paling dalam, yang sudah pasti tetap menekankan
keseimbangan antara sisi eksoteris (lahir) dan esoterisnya (batin). Seni atau
dalam horizon yang lebih luasnya budaya adalah bagian yang inheren menyatu
dalam kehidupan masyarakat.
Ditinjau
dari garapannya ada lima cabang seni yaitu Seni Rupa dan Seni Sastra, Seni
Tari, Seni Teater, dan Seni Musik. Ada yang mengklasifikasikan seni pertunjukan
yakni seni tari, seni musik, dan seni teater. Seni sastra menjadi seni teater
bila dipertunjukan dan senantiasa melibatkan seni rupa. Oleh karena itu, lima
cabang seni itu saling berkorelasi, saling berkaitan satu dengan yang lain.
Setiap
daerah tentu memiliki kesenian masing-masing yang di dalamnya terdapat
perbedaan. Begitu juga halnya dengan Masyarakat Banjar yang memiliki
kesenian-kesenian yang beragam. Keberagaman ini terlihat dari banyaknya
kesenian yang ada dan berkembang di masyarakat Banjar sejak Zaman Prasejarah,
Zaman Hindu Budha dan Zaman Islam.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Masyarakat
Banjar
Secara
etimologi kata ‘Banjar’ sebuah kosa kata arkais austronesia yang berarti
deretan-deretan atau berjajar memanjang. Dalam bahasa Melayu berarti kampung
atau perkampungan. Orang-orang Ngaju menyebutkan kata ‘Banjar’ karena
melihat tempat tinggal penduduk pada
waktu itu berjajar sepanjang sungai yang dihuni oleh migrasi orang-orang
Melayu, sehingga mereka menyebut penduduk yang mendiami rumah-rumah tersebut
dengan sebutan ‘Urang Banjar’.
A.Gazali
Usman (Sejarawan Kalimantan Selatan) menyebutkan bahwa cikal-bakal etnik Banjar
adalah perpaduan kultural dari unsur Melayu, unsur Bukit, Ngaju dan Maanyan.
Asimilasi budaya ini berlangsung jauh sebelum adanya Kerajaan Negara Dipa. Jadi
diperkirakan perpaduan ini pada fase etnosentrisme (negara suku yang bernama
Negara Nan Sarunai atau disebut juga Tanjung Puri) dengan migrasinya
orang-orang Melayu Sriwijaya yang beragama Buddha ke Kalimantan pada sekitar
abad ke 10-11 M.[1]
Kalimantan
Selatan adalah pusat kediaman suku Banjar. Menurut J.S. Vorgouwen, memang adaa
suku Banjar asli dan mereka bermukim di sekitar Hulu Sungai, Banjarmasin,
Martapura, Pelaihari. Di pantai sekitar antara Pegatan dan Pasir suku Banjar bercampur baur dengan orang-orang
Dayak. Orang Bakumpai Marabahan adalah campuran suku Banjar-Dayak-Bugis.[2]
B.
Kesenian
Banjar
Di
dalam sejarah kebudayaan manapun, sudah tentu memuat sejarah kesenian. Sejarah
kesenian Banjar tidak terlepas dari sejarah keseniannya. Sejarah kebudayaan
Banjar paralel dengan sejarah perkembangan “urang Banjar”, dimana
bermula adanya pembauran etnik Melayu sebagai etnik dominan, dengan unsur etnik
Bukit, Ngaju dan Maayan.
Perpaduan
etnik lama kelamaan menimbulkan perpaduan kultural; unsur Melayu sangat dominan
dalam bahasa Banjar. Demikian pula dengan kesenian Banjar tentu saja kesenian
yang dihasilkan oleh asimilasi dari pengaruh sosial politik kesejarahan dalam
kurun waktu yang sangat lama.[3]
Budaya
dan tradisi Urang Banjar adalah hasil asimilasi selama berabad-abad. Budaya
Banjar dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari masyarakat Banjar khususnya
dalam bentuk kesenian, tarian, musik, pakaian, permainan dan upacara
tradisional.
Urang
Banjar mengembangkan sistem budaya, sistem sosial dan material budaya yang
berkaitan dengan relegi, melalui berbagai proses adaptasi, akulturasi dan
asimilasi. Sehingga nampak terjadinya pembauran dalam aspek-aspek budaya.
Meskipun demikian pandangan atau pengaruh Islam lebih dominan dalam kehidupan
budaya Banjar, hampir identik dengan Islam, terutama sekali dengan pandangan
yang berkaitan dengan ke Tuhanan (Tauhid), meskipun dalam kehidupan sehari-hari
masih ada unsur budaya asal, Hindu dan Budha
Adat
istiadat Banjar yang melekat dengan kehidupan sosial warga masyarakat yang
bercirikan Islam terus terjaga dan dipertahankan, nampak dari aktivitas
kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini dapat juga disaksikan melalui berbagai
pentas kesenian Banjar yang sering ditampilkan dalam acara-acara resmi, seperti
tari-tarian dan lagu Banjar. Demikian pula upacara adat khas Banjar yang
biasanya dilaksanakan dalam rangka perkawinan, kelahiran, ataupun
peringatan terhadap peristiwa penting lainnya.
Terdapat
banyak jenis kesenian tradisional Banjar yang hidup dan berkembang di
Kalimantan Selatan, namun diantaranya juga banyak terdapat jenis kesenian
tradisional yang langka, yang dikhawatirkan suatu saat nanti akan menjadi
punah. Kesenian tradisional tersebut pada umumnya cukup komunikatif, digemari
rakyat, hidup dan berkembang di tengah-tengah kehidupan rakyat.[4]
1.
Kesenian
Zaman Prasejarah
Memang,
secara eksplisit kesenian dari masa prasejarah sulit untuk dijelaskan. Diawali
pada masa manusia hidup di gua-gua ataupun seruk-seruk tadah angin, di situlah
“kesenian” manusia prasejarah mulai dapat diketahui, yaitu dengan ditemukannya
gambar-gambar cadas atau lukisan dinding gua ataupun ceruk-ceruk tadah angin
tersebut. Pemikiran
sederhana di atas masih dapat dilihat hingga masa-masa yang lebih kemudian
bahkan hingga sekarang, seperti penggambar lambang atau simbul-simbul yang
bersifat magis-religius. Patung-patung dan balotang pasa etnis Dayak
hingga sekarang masih digambarkan secara sederhana, sekalipun saat ini telah
tersedia para seniman patung yang dapat membuat patung manusia secara sempurna.
Masyarakat
Dayak, membuat karya seni yang sangat sederhana dalam ragam hias. Penciptaan
lebih mangarah pada fungsi religius dalam bentuk lambang-lambang yang berkaitan
dengan konsep kepercayaan yang mereka anut. Motif-motif yang terdapat pada
tiang sandung, tiang sanggaran, dan tiang sapundu
berbentuk sulur-suluran dan geometris. Motif ini mempunyai makna sebagai
pengikat arwah agar tidak bergentayangan menganggu yang hidup. Motif perahu
digambarkan pada peti mati (raung), papan bernama tingang
bangunan induk sandung sebagai simbol kendaraan yang membawa arwah dalam
perjalanan menuju surga.
Ragam
hias fauna seperti naga, tambun, jata, burung tiangang, menggambarkan
kosmologi yang terdiri dari alam atas, alam tengah, dan alam bawah. Motif sanghari
dan bintang bacarang melambangkan sinar kehidupan yang dicita-citakan
setiap orang terdapat pada ragam hias bakul arangan sebagai wadah untuk
upacara aruh ganal pada masyarakat Bukit Loksado. Motif ukiran simbol
penolak bala digambarkan dalam bentuk kedok dengan wajah yang menakutkan
terdapat pada alat menggendong anak suku Dayak Ngaju yang disebut baning
aban. Simbol tersebut dimaksud untuk menjaga si anak dari gangguan roh
arwah, hantu-hantu dan roh binatang. Simbol penolak bala bagi masyarakat Banjar
terlihat pada ragam hias ukiran rumah Banjar yang terdapat pada pilis dengan
motif daun jaruju, pada dahi lawang dengan motif Banaspati
(kala).
Pada
seni tari, walaupun gerakan tidak dinamis tapi mengekspresikan emosi yang
meluap-luap sebagai harapan dan tanda syukur pada Maha Ta’ala, tergambar
melalui hentakan kaki yang kuat dan keras pada tari Balian, Bakanjar,
Babangsai, tari gantar dan sebagainya. Tarian ini biasanya disertai
dengan nyanyian dengan ritme yang teratur dan nada rendah berupa mamang oleh
pemimpin upacara diselingi dengan teriakan-teriakan oleh penari. Secara
etnografis, tinggalan tersebut merupakan sisa-sisa hasil kesenian dari masa
prasejarah di Kalimantan.[5]
2.
Kesenian
Zaman Hindu Budha
Dalam
sejarah Banjar yakni pada zaman kuno di Kalimatan Selatan ditandai dengan munculnya
kerajaan-kerajaan yang kisahkan dalam ceritera bersambung dari mulut ke mulut
berupa hikayat. Hal disebabkan belum adanya suatu penelitian yang mendalam
tentang situasi pada zaman tersebut.
Sebelum
muncul kerajaan Negara Dipa dapat diperkirakan pada zaman perundagian telah
terdapat desa-desa besar di pantai kaki pegunungan Meratus yang lambat laun
berkembang menjadi kota-kota bandar dalam perhubungan perdagangan laut dengan
India dan China dan perdagangan Interinsuler.
Konsentrasi
populasi terdapat selanjutnya dengan pertumbuhan pantai dan aliran sungai
Tabalong sebagai daearah terpadat penduduknya. Kemungkinan sekali di sekitar
abad ke-5 atau 6 Masehi telah muncul kerajaan Tanjungpuri sebagai pusat
kolonialisasi orang-orang Melayu yang berasal dari Sriwijaya. Mereka membawa
bahasa dan kebudayaan Melayu sambil berdagang. Mereka kemudian mengembangkan
diri bercampur dengan penduduk sekitarnya yang terdiri dari suku-suku Maanyan,
Lawangan dan Bukit.
Besar
kemungkinan bahwa Melayu pendatang yang berasimilasi itu masih menumbuh kembangkan
kesenian Melayu. Ketika Tanjungpuri lenyap maka timbul kerajaan Negara Dipa
yang dibantu oleh orang-orang Jawa dari Kediri Utara. Kebudayaan Jawa dalam
kehidupan masyarakat istana dan sekitarnya terpadu dengan kebudayaan Melayu dan
Maanyan, akan tetapi keraton Negara Dipa lebih mendominasi adat istiadat budaya
Jawa, maka masyarakat sekitar juga dipengaruhi hal yang demikian.
a a. Seni
Rupa
Walaupun
mengenai seni rupa yang berkembang tidak begitu jelas namun secara asumsi dapat
diperkirakan bahwa seni patung sederhana seperti zaman neolithikum tetap
berjalan.
1.
Seni Bangunan
Negara
Dipa dan Negara Daha masing-masing mempunyai peninggalan berupa Candi Amuntai
dan Candi Laras di Margasari. Dari berbagai peninggalan yang ditemukan di situs
candi Laras di Margasari, menunjukkan bahwa kepercayaan yang berkembang saat
itu adalah Hindu Siwa.
2.
Seni Arca
Di
Candi Agung tidak ditemukan Arca, namun di Candi Laras dan sekitarnya ditemukan
sisa arca dipangkara, potongan lingga dari batu bazatl merah dan pecarahan
yoni. Dipangkara berarti dian (penerang) atau pembawa cahaya. Kemungkinan arca
itu dibawa oleh orang-orang Melayu dari Sriwijaya sekitar abad ke-7 Masehi. Hal
ini berkaitan dengan temuan fragmen prasasti berinkripsi Jayasiddha dan
arca Dipangkara itu sendiri sebagai arca Budha.
3.
Seni Ukir
Diperkirakan
motif ukiran yang sekarang adalah sebagian peninggalan zaman Hindu Budha dan
Siwa. Motif ukiran pada umumnya terdapat pada kayu, perhiasan, logam kuningan
dan kulit binatang. Motif ornamen terdapat pada anyaman-anyaman tikar, anyaman
bakul butah, lanjung dan alat rumah tangga lainnya. Tatah ukir pada
kulit binatang sudah berkembang lewat tatah wayang kulit.
4.
Seni Lukis
Lukisan
dengan sulaman manik-manik air guci sudah berkembang pada zaman ini, karena
motif-motif ukiran mirip dengan sulaman manik-manik, terutama pada motif hiasan
pada dinding air guci dan tapih air guci serta baju wanita. Batik ikat
sasirangan juga berasal pada zaman ini, dengan dilukis pada kain dan diikat
sebelum dicelup pewarna. Menurut sejarah kain sasirangan pertama kali di buat
pada abad ke-12, tepatnya saat patih Lambung Mangkurat bertapa selama 40 hari
40 malam diatas rakit dan rakit patih tiba didaerah rantau Kota Bagantung. Ia
melihat buih dan mendengar suara wanita dari dalam buih itu, yaitu Putri
Junjung Buih. Putri berjanji akan muncul kepermukaan dengan syarat sebuah
istana dan kain tenun motif padi waringin yang diselesaikan dalam sehari. Kain
tersebut yang saat ini kita kenal dengan kain sasirangan.[6]
b b. Seni
Sastra
Mengenai
seni sastra pada abad-abad pertama sampai dengan abad ke-14 masih gelap. Yang
jelas seni itu telah ada sejak kerajaan Tanjung Puri dan terus berkembang
hingga ke masa kerajaan Banjar. Beberapa diantaranya dapat disinopsiskan
sebagai berikut :
1.
Sangiang Gantung
2.
Intingan dan
Dayuhan
3.
Ular Dandang
4.
Batu Balah Batu
Batangkup
5.
Sandah Gelar
Puteri Ambang Kapas
6.
Kisah Batu
Banawa
c c. Seni
Teater
Mungkin
sekali pada zaman kerajaan Negara Dipa dan kerajaan Negara Daha, seni teater
sebagai seni pertunjukkan yang berasal dari Jawa juga hidup dikalangan istana.
Seni ini dikembangkan oleh imigran dari Jawa yakni Mpu Jatmika yang mendirikan
Negara Dipa.
1.
Wayang kulit
Wayang
kulit pada masa itu masih murni budaya Jawa dengan ceritera Mahabarata atau
Ramayana.
2.
Wayang wong
Sesuai
dengan Hikayat Banjar yang menyebutkan bahwa wayang sudah tumbuh di Kalimantan
Selatan sejak adanya kerajaan Negara Dipa, “... bawayangan Wong, manopeng,
bawayang Gadogan, bawayang Purwa, babaksan ...”merupakan kesenian yang biasa
dipertunjukkan di kerajaan itu” (Suryadikara, 1992: 12).
3.
Dalang topeng
Teater
Dalang Topeng adalah perkembangan dari tarian manopeng. Seorang dalang sebagai
narasi yang berceritera dan melaksanakan anatr dialog pemeran bertopeng.
Ceritera yang dibawakan adalah ceritera Panji.
d d. Seni
Musik dan Seni Suara
Seni
musik pada zaman Hindu Budha masih belum begitu jelas. Namun terdapat gamelan
yang diberi nama Srinting Badayu yang dibawa Empu Jatmika dan menjadi kesenian
istana Negara Dipa.
e e. Seni
Tari
Tari
Baksa yang beragam namanya seperti Baksa Panah, Baksa Dadap, Baksa Tumbak,
Baksa Tameng, Baksa Kupu-kupu, diiringi oleh pargamalan empat puluh
orang. Kemungkinan tari rakyat yang didukung oleh rakyat yang masih
memelihara tari tradisional mereka seperti tari Gantur Balian, juga
masih dipergelarkan ketika upara sehabis panen.
3.
Kesenian
Zaman Islam
Kebudayaan
Islam secara perlahan tumbuh dan kesenian lama tidak dimusnahkan tetapi terjadi
akulturasi positif. Istana sejak dahulu memang menjadi pusat kebudayaan.
Demikian juga dengan istana kerejaan Banjar yang dibangun oleh Sultan
Suriansyah, yang direbut olehnya ketika masih bernama Pengeran Samudera.[7]
a a. Seni
Rupa
Tentang
seni rupa pada zaman islam, terutama pada masa kerajaan banjar dan seterusnya
konsep-konsep kepercayaan lama yang terdapat dalam kaharingan (Kaharingan dan
Siwaisme) terdapat pula dalam wujud seni bangun dan sarana rumah diam dan
masjid orang Banjar” (Saleh, 1978:28).
1.
Seni Bangunan
Rumah adat Banjar
diperkirakan baru berkembang dalam abad-abad terakhir. Dari jenis-jenis yang
masih ditemukan dimana izinnya bertahun 1871 sebagai rumah yang tertua dan
diketahui tahun didirikannya, terdapat di kota Banjarmasin. Pembangunannya
didapat dari pemerintahan Hindia Belanda dan tipenya jenis rumah bubungan
tinggi.
2.
Seni Arca
Seni arca pada zaman
masuknya budaya dan akidah islam tidak pernah ditemukan karena Islam melarang
adanya arca atau patung di manapun.
3.
Seni Ukir
Nampak sekali kehadiran
karya ukir Islam berupa syahadat di atas pintu rumah Banjar dan berhiaskan
motif tanaman merambat.
4.
Seni Lukis
Lukisan dasar kemudian
dijahit untuk pembuatan batik
kain celup sasirangan
dengan berbagai corak hiasan.
5.
Seni Motif
Anyaman
Pengaruh agama Islam
sangat kuat mewarnai perkembangan seni rupa teritama di Kalimantan Selatan.
Seni kerajianan dari rotan berupa tas pakaian, tope jangang tope rotan,
kursi tamu diberi anyaman
rotan halus dan sebagainya
b b. Seni
Sastra Lisan
Seni
Sastra lisan ini bisa dikategorikan juga sebagai Teater Tutur yakni teater yang
dituturkan oleh sang pelaku atau menceritakan suatu kisahan yang berstruktur
dari awal, pertengahan menuju pada ketegangan atau klimaks hingga ending.
Penutur dalam menyampaikan kisahan dengan menggunakan kemampuan vocal, dalam
menampilkan suara dan ekspresi watak-watak yang menjadi pendukung cerita.
1.
Dundam
Dundam adalah jenis
kesenian yang cenderung berfugsi untuk keperluan upacara. Sebab dalam teknisi
penyajiannya harus menyediakan sesajian nasi ketan, nyiur anum (kelapa
muada), perapen yang berkukus (asap) manyan. Padundam yang
berduduk berslia seorang diri dengan alat musik dengan alat musik terbang harus
dipisah oleh layar (dinding kain) dimana para undangan hanya sekedar mendengar
tuturan pandundam yang diiringi bunyi terbang. Sebagai sastra lisan,
dundam berbentuk syair dan prosa lirik untuk berceritra mitos.
2.
Lamut
Kesenian lamut sebagai
teater tutur, masih eksis di banua banjar. Jenis teater ini masih cukup dikenal
oleh masyarakat kini dibanding dengan dundam, andi-andi dan pandung.
3.
Andi-andi
Andi-andi dilantunkan
pada gotong royong mengetam padi di sawah yang luas, memanggil pencerita Andi-andi
untuk melantunkan ceritanya yang liris kadangkala puisi pantun yang dilagukan.
Tidak terasa panas terik ditengah sawah, kerena imajinasi larut dalam benak
mereka. Pada saat-saat tertentu, andi-andian juga bisa disampaikan ditangah
kelompok keluarga didalam rumah pada malam hari dengan cara menuturkan
kisah-kisah tertentu secara santai.
4.
Bapandung
Pandung artinya meniru tingkah laku. Kesenian
ini muncul di margasari. Diperkirakan munculnya pada abad ke-19 untuk menghibur
masyarakat agraris. Bapandung tidak lain berkisah sama dengan andi-andi
di sawah, tetapi tukang pandung lebih dinamis karena ia bercerita sambil
meragakan apa dan bagaimana tokoh berakting. Secara penyajian,” Bapandung
adalah menolong tradisi.
5.
Madihin
Kesenian Madihin
tergolong suatu kesenian tradisional yang sederhana dan murah. Kesederhanaan
itu karena penyajian yang utamanya adalah penyampaian syair-syair yang di
bacakan Oleh seniaman Madihin yang disebut Pamadihin.[8]
Rangkain syair-syair dan pantun yang menjadi bahan komunikasi dan informasi.
Perkataan “madihin” berasal dari kata “madah”. Madah
artinya berkata-kata. Dari kata tersebut, jelaslah madihin adalah karya seni
budaya islam dan pengaruh kasidah arabi, namun telah tercipta dengan bahasa banjar,
kesenian ini tesebar luas di kalangan masyarakat Banjar. Menurut Amir Hasan
Kiai Bondan, kesenian madihin sudah ada ketika pemerintahan panembahan sultan
Adam di Kerajaan Banjar.
6.
Besyasyairan
Fungsi membaca
syair-syair adalah “Bajagaan” pengantin lajang. Setiap ada malam
pengantin lajang, kelompok pemuda berkumpul di rumah pengantin wanita untuk
membaca syair. Peran ibu-ibu senantiasa membimbing dan mendemonstrasikan
lagu-lagu untuk disimak dan dipelajari oleh yunior. Syair-syair tersebut telah
berbentuk buku. Buku-buku syair berasal dari Sumatra dan melayu misalnya: syair
siti zubaidah, syair abdulah muluk, syair si miskin, syair brahma syahdan,
syair hanep, syair ganda kusuma, syair mayat, dan sebagainya.
7.
Bapapantunan
Unsur budaya melayu
yang dianut pantun banjar ternyata bentuk yang bervariasi. Anak-anak bapapantunan, orang desa “batawak
pantun” dan orang tua bapapantunan dalam acara tertentu.
c c. Seni
Musik
1.
Gamelan
Ditahun 1900 musik
gamelan Selendro lengkap seperti gamelan jawa masih berkembang, terutama pewaris
keluarga istana yaitu keluarga gusti-gusti.
2.
Tarbang Haderah
Tarbang haderah
berfungsi sebagai pembawa, penyaluk, peningkah, penggulung dan babun (tambur).
3.
Tarbang Ampat
Tarbang ampat adalah
rebana berukuran besar di sebut juga Tarbang Burdah, karena mengiringi
gendangan kasidah Burdah.
4.
Tarbang Lamut
Dipergunakan oleh
pelamutan untuk mengiringi ia bercerita. Ukurannya lebih besar dari tarbang
Haderah dan Lebih kecil dari tarbang Burdah.
5.
Tarbang Madihin
Lebih kecil dari
tarbang Lamut, namun pembuatannya sama dengan tarbang Lamut.
6.
Musik Suling
Merupakan orkes suling
dengan perangkat lain seperti tambur, genderang, marakas, dan ketipung.
7.
Musik
Kurung-Kurung Hantak
Kurung-kurung
dibunyikan pada saat menugul (batanam) atau keramaian kampong, sering
juga diadakan perlombaan membunyikan kurung-kurung. Dinilai nyaringnya
bunyi, dan jika ada kurung-kurung yang pecah maka ia dianggap kalah.[9]
8.
Musik Kintung
Diadopsi suku Banjar
dari musik suku Bukit. Musik ini dibuat dari bambu yang dipotong menjadi tiga
buah kintung. Membunyikannya seperti kurung-kurung hantak, ditas sepotong kayu
tebal.
9.
Musik Main
Kuntau
Terdiri dari serunai,
babun besar, babun talinting (penyela) dan kempul (agung kecil).
d d. Seni
Suara
Menurut
Anang Ardiansyah yang meneliti lagu-lagu Banjar, bahwa embrio lagu-lagu Banjar
bermula dalam “harungut” (gumam) dikala senggang ditempat sepi.
Lagu-lagu Banjar sebenarnya mempunyai identitas tersendiri dengan penonjolan
Melayu-Maanyan-Ngaju dan sedikit Jawa.
1.
Sinden
2.
Lagu Dundam
3.
Lagu-lagu
Bajapin
4.
Lagu Basyasyairan
5.
Lagu Tirik dan
Gandut
6.
Lagu Pariuk
7.
Lagu Ba-ahui
8.
Lagu Badudus
9.
Lagu Damarulan
e. Seni
Tari
1.
Tari Baksa dan
Topeng
2.
Tari Rudat
3.
Tari Sinoman
Haderah
4.
Tari Semi Klasik
5.
Tari Basisingaan
6.
Tari Bagandut
7.
Tari Japin Sigam
8.
Tari Payuh
Kambang
f f. Seni
Teater
Teater
Banjar terdiri dari dua jenis yakni Teater Tradisi/ Teater Rakyat dan Teater
Tutur. Teater tradisi terdiri dari Teater Wayang Kulit, Wayang Gung, Teater
Abdul Muluk Cabang, Teater Mamanda, Teater Tari Topeng, Teater Tari Kuda Gepang
Carita, Teater Damarulan, Teater Tantayuhan. Sedangkan Teater Tutur terdiri
dari Lamut, Andi-andi, Dundam, Bapandung (Bakisah).
Kebudayaan
Banjar dalam bidang kesenian ini hendaklah kita jaga, pelihara dan kita
lestarikan agar tidak memudar dan mengalami kepunahan. Dalam beberapa tahun terakhir
ada kesadaran untuk menghidupkan kembali Budaya Banjar dengan adanya Lembaga
Adat Dan Budaya, Kekerabatan dan Kesultanan Banjar, dan Kongres Budaya Banjar
tingkat Regional yang sudah pula di gelar dua kali. Banjar Expo digelar hampir
tiap tahun. Kita patut menyambut baik, karena seamkin banyak lembaga event
budaya, ada harapan kebudayaan Banjar dapat dipertahankan, digali, dikembangkan
dan dilestarikan.[10]
[1]
Ahmad Syadzali dan Tahniyatus Shofia (Ed.), Dialektika
Budaya Banjar dalam Konteks Seni, Tradisi dan Identitas, (Banjarmasin: Tahura
Media dan Kasisab Institute, 2013), hal. 22-23.
[2]
Tjilik Riwut, Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan,
(Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 1993), hal. 194.
[3]
M. Suriansyah Ideham, B.A, dkk, Urang Banjar dan Kebudayaannya,
(Banjarmasin: Pustaka Banua, 2007), hal. 387.
[4]
Syamsiar Seman, Kesenian Tradisional Banjar Lamut, Madihin dan Pantun,
(Banjarmasin: Lembaga Pengkajian dan Pelestarian Budaya Banjar Kalimantan
Selatan, 2010), hal.1.
[5]
M. Suriansyah Ideham, B.A, dkk, Op.Cit., hal. 389-390.
[6]
Petik Nursasongko, Atlas Tematik Kota Banjarmasin, (Klaten: Intan Pariwara,
2011), hal. 56.
[7]
M. Suriansyah Ideham, B.A, dkk, Op.Cit., hal. 397.
[8]
Syamsiar Seman, Op.Cit., hal. 5.
[9]
Tjilik Riwut, Op.Cit., hal. 221.
[10]
Ahmad Barjie B, Refleksi BanuaBanjar (Tulisan Seputar Kesultanan Banjar,
Sejarah, Agama dan Sosial Budaya), (Martapura: Pustaka Agung Kesultanan Banjar,
2011), hal. 37.
How to make a bet in casinos - DrmCD
BalasHapusA bet in a casino is a bet you make 서산 출장샵 that allows you to 동해 출장마사지 win real money or 영천 출장안마 prizes in casinos. This type of bet 창원 출장마사지 involves picking 안성 출장마사지 a winner in the