BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah
Pendidikan adalah usaha sadar dan bertujuan untuk mengembangkan kualitas
manusia. Sebagai suatu kegiatan yang sadar akan tujuan, maka dalam
pelaksanaannya berada dalam suatu proses yang berkesinambungan dalam setiap
jenis dan jenjang pendidikan. Semuanya berkaitan dalam suatu sistem pendidikan
yang integral.[1]
Dasar pendidikan ditandai akan sebuah kesadaran bahwa setiap muslim wajib
menuntut ilmu dan tidak boleh mengabaikannya. Firman Allah Swt dalam Q.S
Al-Mujadalah ayat 11 sebagai berikut.
Ayat di atas menjelaskan bahwa penguasaan dan pemahaman terhadap ilmu
pengetahuan menrupakan faktor yang sangat penting untuk mencapai kemajuan dan
kemuliaan dalam diri seseorang. Semakin jelas bahwa orang yang beriman dan
memiliki ilmu pengetahuan akan diangkat derajatnya oleh Allah Swt.
Sama halnya dijelas dalam rumusan tujuan pendidikan nasional yang tercantum
dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional pasal 3 menyatakan sebagai berikut.
Pendidikan
nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan potensi peserta
didik agar menjadi menusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[2]
Pendidikan nonformal meliputi kursus-kursus keahlian dan keterampilan pada
bidang tertentu. Pendidikan informal adalah pendidikan yang berlangsung dalam
keluarga. Pada lembaga pendidikan formal yang salah satunya adalah Sekolah
Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), dalam pembelajarannya diberikan
berbagai mata pelajaran dan salah satunya mata pelajaran tersebut adalah Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA).
Mata pelajaran IPA diajarkan sejak jenjang SD/MI, yang memberikan pemahaman
betapa pentingnya mempelajari IPA. Dikatakan IPA memegang peranan penting dalam
kehidupan sehari-hari, suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri.
Menurut Munadi, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau sains (science)
adalah hasil eksplorasi ke alam materi. Di dalam sains terdapat ilmu fisika,
kimia matematika, biologi, astronomi,
sementara meteorologi, oseanologi fisis, dan geografi fisis mempunyai
wilayah yang lebih sempit.[3]
Semua ilmu itu saling berkaitan dan secara bersama-sama dimanfaatkan untuk mengatasi masalah-masalah
dalam kehidupan kita sehari-hari.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di SD/MI. IPA berhubungan dengan cara mencari
tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan
tentang kumpulan yang berupa fakta-fakta, prinsip-prinsip, konsep-konsep
saja tetapi juga merupakan kumpulan suatu proses penemuan.
Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk
mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih
lanjut dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan IPA
diarahkan untuk inquiri dan
berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang
lebih mendalam tentang alam sekitar.
Al-quran telah bercerita tentang kejadian penciptaan alam. Dan melalui
pembelajaran dengan metode eksperimen ini diharapkan kita bisa mencari tahu
hal-hal yang belum diketahui dan memikirkan semua yang diciptakan Allah SWT.
Sebagaimana disebutkan dalam surah Al- Mu’min ayat 57 yang berbunyi:
Dan surah Al-A’raf ayat 185 yang berbunyi:
Ilmu Pengetahuan Alam di SD/MI berfungsi untuk menguasai konsep dan manfaat
pengetahuan alam dalam kehidupan sehari-hari, serta bertujuan :
1.
Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman
konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari.
2.
Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan
kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA,
lingkungan, teknologi dan masyarakat.
3.
Mengembangkan keterampilan proses untuk
menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
4.
Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam
memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
5.
Menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai
salah satu ciptaan Allah SWT.[4]
Menurut paradigma konstruksivisme, pembelajaran IPA dipahami sebagai proses
membangun aktifitas peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuan dengan cara
membuat hubungan atau keterkaitan antara pengetahuan yang telah dimiliki
peserta didik dengan pengetahuan yang sedang dipelajari melalui interaksi
dengan yang lain (kontekstual).[5]
Pembelajaran IPA di SD/MI sangat perlu memperhatikan cara berpikir peserta
didik. Umumnya anak-anak tingkat usia SD/MI (7 sampai 12 tahun) memiliki
sifat-sifat khas, yaitu berpikir atas dasar pengalaman yang nyata dan belum
dapat membayangkan hal-hal yang masih belum dapat dilihat. Berdasarkan
kenyataan itu dalam pembelajaran IPA perlu dirancang dan dilaksanakan suatu
pendekatan, metode dan strategi pembelajaran yang dapat membantu peserta didik
terlibat dalam proses belajar dan mengalami secara langsung hal-hal yang
dipelajarinya.
Pembelajaran akan terasa bermakna bagi peserta didik jika guru mengetahui
objek yang diajarkan sehingga dapat mengajarkan materi dengan penuh dinamika
dan inovasi. Sama halnya dengan pembelajaran IPA di SD/MI guru juga perlu memahami
hakekat dari pembelajaran IPA.
Hakekat pembelajaran IPA ditinjau dari tiga segi, yaitu:
1. IPA sebagai produk.
Merupakan hasil upaya para perintis IPA terdahulu dan umumnya berupa fakta,
konsep teori, hukum, prosedur informasi yang telah tersusun secara lemgkap dan
sistematis dalam bentuk buku-buku tesk dan film-film dokumen dalam bentuk CD
atau DVD yang semuanya dapat dianggap body of knowledge.
2. IPA sebagai proses.
Makna IPA sebagai proses adalah proses untuk mendapatkan IPA yang dilakukan
melalui metode ilmiah. Pada anak-anak usia SD/MI, metode ilmiah dikembangkan
secara bertahap, berkesinambungan, dengan harapan bahwa pada akhirnya akan
terbentuk paduan yang lebih utuh, sehingga harapannya anak-anak SD/MI mampu
melakukan penelitian secara sederhana.
3. IPA sebagai
pengembangan sikap. Sikap ilmiah yang memungkinkan dapat dikembangkan pada
anak-anak SD/MI adalah : (1) sikap ingin tahu; (2) sikap ingin mendapatkan
sesuatu yang baru; (3) sikap kerja sama; (4) sikap tidak putus asa; (5) sikap
tidak berprasangka; (6) sikap mawas diri; (7) sikap bertanggung jawab; (8)
sikap berpikir bebas; (9) sikap disiplin diri.
Hakekat pembelajaran IPA menunjukkan
bahwa sebaiknya pembelajaran IPA di SD/MI menggunakan rasa keingintahuan peserta didik sebagai
titik awal dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan penyelidikan atau percobaan.
Kegiatan-kegiatan ini dilakukan untuk menemukan dan menanamkan pemahaman
konsep-konsep baru dan mengaplikasikannya untuk memecahkan masalah-masalah yang
ditemui oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk itu guru dianjurkan memilih menggunakan strategi atau metode yang
banyak melibatkan peserta didik aktif dalam proses belajar, baik secara mental,
fisik maupun sosial. Peserta didik dibawa untuk mengamati, menebak, membuat,
mencoba, mampu menjawab pertanyaan dan kalau mungkin berdebat. Penekanan pada
pembelajaran IPA tidak hanya melatih keterampilan dan hafalan fakta, tetapi
pada pemahaman konsep, sehingga diharapkan proses pembelajaran IPA lebih
bermakna. Salah satu metode yang tepat dan sesuai menurut sifat kontruksivis
adalah dengan metode eksperimen.
Berdasarkan analisis buku paket dan LKS
mata pelajaran IPA di kelas tinggi, salah satunya di kelas V pada materi
konsep cahaya dalam pelaksanaan pembelajarannya lebih cenderung mengarah pada
kegiatan eksperimen. Kegiatan eksperimen membuat peserta didik melakukan praktek atau percobaan
sendiri, membuktikan secara langsung, menganalisis, dan kemudian membuat
kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukannya sendiri. Karena itu metode eksperimen ini sangat tepat untuk
diterapkan di kelas tinggi dan juga karena mudah digunakan bagi guru itu
sendiri.
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti akan mengadakan penelitian
dengan judul : ”Pelaksanaan Pembelajaran IPA dengan Metode Eksperimen pada
Konsep Cahaya di SDN 1 Bongkang Tahun Pelajaran 2013/2014”.
B. Definisi
Operasional
Untuk menghindari kesalahan penafisiran judul skripsi diatas, maka peneliti
merasa perlu menegaskan:
1.
Pelaksanaan dalam kamus besar Bahasa Indonesia
adalah asal kata dari laksana, kemudian mendapat awalan “pe” dan akhiran “an”
yang berarti proses, cara, perbuatan melaksanakan (rancangan)[6].
Yang penulis maksud dengan pelaksanaan disini adalah seluruh proses atau cara
pelaksanaan metode eksperimen terhadap materi konsep cahaya di kelas V SDN 1
Bongkang Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong.
2.
Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian
pelajaran, dimana peserta didik melakukan percobaan dengan mengalami dan
membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari. Dalam proses belajar mengajar dengan
metode percobaan ini peserta didik diberi kesempatan untuk mengalami sendiri
atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek,
menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu objek,
keadaan, atau proses sesuatu. Dengan demikian, dituntut untuk mengalami sendiri, mencari
kebenaran atau mencoba mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik kesimpulan
atau proses yang dialaminya itu.[7]
3.
Konsep cahaya adalah energi yang dimiliki oleh
gerakan foton dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Adapun sifat-sifat cahaya
ada lima, yaitu : (1) cahaya merambat lurus; (2) cahaya menembus benda bening;
(3) cahaya dapat dipantulkan; (4) cahaya dapat dibiaskan; (5) cahaya dapat
diuraikan. Pada pelaksanaan pembelajaran IPA dengan metode eksperimen, yang
akan dipelajari yaitu bagaimana cahaya merambat lurus, bagaimana cahaya
menembus benda bening, bagaimana cahaya dapat dipantulkan, dan bagaimana cahaya
dapat dibiaskan.
C.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat
dirumuskan rumusan masalah penelitian, yaitu
1.
Bagaimana pelaksanaan metode eksperimen pada
konsep cahaya di kelas V SDN 1 Bongkang?
2. Apa saja
faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pelaksanaan metode eksperimen pada konsep
cahaya di kelas V SDN 1 Bongkang?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah
diatas, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah.
1.
Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan metode
eksperimen pada konsep cahaya di kelas V SDN 1 Bongkang .
2.
Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang
mempengaruhi dalam pelaksanaan metode eksperimen pada konsep cahaya di kelas V
SDN 1 Bongkang.
E.
Alasan Memilih Judul
Ada beberapa alasan yang mendasari peneliti dalam
memilih judul tersebut di atas, yaitu:
1.
Peneliti sebagai calon pendidik merasa penting
untuk mengetahui metode, model, media maupun maupun strategi pembelajaran di
SDN 1 Bongkang Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong yang digunakan guru dalam pembelajaran IPA, khususnya pada konsep
cahaya.
2.
Pelaksanaan metode eksperimen ini selain sangat
tepat diterapkan pada pembelajaran IPA, juga mudah untuk digunakan oleh guru.
3.
Konsep cahaya ini penting bagi peserta didik untuk
lebih dipahami karena sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
4.
Peneliti memilih tempat di SDN 1 Bongkang karna
melihat prestasi yang pernah diraih, sekolah ini cukup diunggulkan dan cukup
representatif.
F. Signifikansi Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat diantaranya:
1.
Masukan bagi guru untuk menambah ragam metode,
strategi, maupun pendekatan pembelajaran sehingga banyak pilihan.
2.
Dapat menumbuhkan semangat bekerja sama antar
peserta didik, meningkatkan motivasi dan keaktifan peserta didik dalam
pembelajaran.
3.
Sebagai bahan informasi untuk pengembangan penggunaan
metode eksperimen dalam pembelajaran IPA terkhusus pada materi konsep cahaya di
kelas V SDN 1 Bongkang.
G. Sistematika
Penulisan
Sebagai gambaran dari penelitian ini, maka penulis membuat sistematika
penulisan sebagai berikut.
BAB I Pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, definisi operasional,
rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika
penulisan.
BAB II Landasan Teori yang berisi hakekat pembelajaran dan pembelajaran
IPA, macam-macam metode pembelajaran dalam IPA, metode eksperimen dan
langkah-langkahnya, kelebihan dan kekurangan metode eksperimen, dan eksperimen
dalam konsep cahaya.
BAB III Metodologi Penelitian yang berisi jenis dan pendekatan penelitian,
subjek dan objek penelitian, setting penelitian, data, sumber data dan teknik
pengumpulan data, teknik pengolahan data dan prosedur penelitian.
BAB IV Laporan Hasil Penelitian yang berisi deskripsi lokasi penelitian,
penyajian data dan analisis data.
BAB V Penutup yang berisi simpulan dan saran.
BAB III
METODE
PENELITIAN
A. Jenis dan
Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research)
yaitu tentang pelaksanaan metode eksperimen pada konsep cahaya di kelas V SDN 1
Bongkang Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong. Penelitian ini menggunakan
pendekatan deskriptif kualitatif.
Kualitatif adalah prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa
kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
B. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah satu orang guru mata pelajaran IPA. Sedangkan
objek penelitian ini adalah pelaksanaan metode eksperimen pada konsep cahaya di
kelas V SDN 1 Bongkang Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong, dan faktor-faktor
yang mempengaruhi dalam pelaksanaan metode eksperimen.
C. Setting Penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan di SDN 1 Bongkang, di desa Bongkang
Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong. Waktu dilaksanakan pada bulan Mei tahun
2014.
D. Data, Sumber Data,
dan Teknik Pengumpulan Data
1.
Data
Data yang ingin digali pada penelitian ini
ada dua, yaitu data pokok dan data penujung.
a.
Data Pokok
1) Data yang berhudungan
tentang pelaksanaan metode eksperimen pada konsep cahaya di kelas V SDN 1
Bongkang, meliputi:
a) Persiapan
-
Kesesuaian metode eksperimen dengan bahan/materi konsep cahaya dan tujuan/indikator
pembelajaran konsep cahaya.
-
Persiapan pelaksanaan
b) Pelaksanaan
c) Evaluasi dan tindak lanjut
2) Data tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pelaksanaan metode eksperimen pada konsep
cahaya di kelas V SDN 1 Bongkang, meliputi:
a) Faktor guru,
meliputi:
(1) Latar
belakang pendidikan
(2)
Pengalaman mengajar dan Pelatihan guru yang diikuti
b) Faktor peserta didik,
meliputi:
(1) Minat
(2)
Keaktifan dan cara belajar anak
b.
Data Penunjang
Data penunjang yang merupakan data
pelengkap dari data pokok dalam penelitian ini adalah:
1) Sejarah singkat
berdirinya SDN 1 Bongkang Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong.
2) Identitas Sekolah
3) Lokasi Sekolah
4) Visi dan Misi
5) Keadaan guru di SDN 1
Bongkang
6) Keadaan peserta didik
di SDN 1 Bongkang
2.
Sumber Data
Adapun yang menjadi sumber data dalam ini
adalah sebagai berikut:
a. Responden, yaitu guru
mata pelajaran IPA dan peserta didik kelas V
b. Informan, yaitu
kepala sekolah, tata usaha, dan peserta didik kelas V SDN 1 Bongkang.
c. Dokumen yang memuat
data-data atau informasi yang diperlukan dalam penelitian.
3.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
a.
Observasi
Observasi sebagai teknik pengumpulan data
mempunyai yang spesifik jika dibanding dengan teknik yang lain, yaitu wawancara
dan kuesioner. Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang,
maka observasi tidak terlepas pada orang, tetapi juga objek-objek alam lain.[19]
Data yang akan diobsevasi yaitu:
1)
Kondisi sarana prasarana di sekolah
2)
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran IPA di kelas V
3)
Pelaksanaan metode eksperimen yang meliputi
-
Persiapan
-
Pelaksanaan
-
Evaluasi dan tindak lanjut
4)
Sarana prasaran untuk pembelajaran materi cahaya
dimiliki pihak sekolah
5)
Pelaksanaan pembelajaran IPA dengan metode
eksperimen pada konsep cahaya di SDN 1 Bongkang.
b.
Wawancara
Instrumen ini berfungsi untuk pengambilan data di lapangan. Pada teknik ini
peneliti datang berhadapan muka secara langsung dengan responden atau objek
yang diteliti. Mereka menanyakan sesuatu yang telah direncanakan kepada
responden. Hasilnya dicatat sebagai informasi penting dalam penelitian. Pada
wawancara ini dimungkinkan peneliti dengan responden melakukan tanya jawab
secara interaktif maupun secara sepihak saja misalnya dari peneliti saja.[20]
Data ingin diketahui dari wawancara yaitu:
1) Untuk Guru IPA. Metode
yang biasa ibu gunakan pada materi cahaya, kesesuaian metode pembelajaran
materi cahaya dengan indikator dan tujuan pembelajaran, waktu yang diperlukan
dalam pelaksanaan metode pembelajaran materi cahaya, media yang biasa ibu
gunakan dalam pembelajaran materi cahaya, kendala dalam pelaksanaan
pembelajaran materi cahaya, sarana prasana yang mendukung untuk pembelajaran
materi cahaya, buku pegangan, kondisi peserta didik pada kelas V, latar belakang
pendidikan terakhir ibu/bapak, Sejak kapan ibu mulai mengajar di SDN 1
Bongkang, penataran, pelatihan atau seminar tentang pendidikan yang pernah
diikuti.
2) Untuk Kepala Sekolah
dan Tata Usaha. Cerita berdirinya SDN 1 Bongkang, jumlah guru yang mengajar di
sekolah, saran prasarana yang tersedia di sekolah, jumlah peserta didik kelas
V.
3) Untuk peserta didik
kelas V. Metode dan gaya mengajar guru IPA yang disukai dan disenangi oleh
peserta didik.
c.
Dokumenter
Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data melalui dokumen atau catatan
yang ada hubungannya dengan permasalahan yang di teliti,dan dapat mendukung
dari wawancara dan observasi, yaitu dokumen-dokumen resmi seperti monografi,
catatan-catatan serta buku-buku peraturan yang ada, data tentang jumlah guru,
tata usaha, jumlah peserta didik, dan juga sejarah berdirinya SDN 1 Bongkang
Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong.
Alasan dokumen dijadikan sebagai data untuk membuktikan penelitian karena
dokumen merupakan sumber yang stabil, dapat berguna sebagai bukti untuk
pengujian, mempunyai sifat yang alamiah, tidak reaktif, sehingga mudah
ditemukan dengan teknik kajian isi, disamping itu hasil kajian isi akan membuka
kesempatan untuk memperluas pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki.
Data yang ingin didapat dari dokumen yaitu:
1) Tentang sejarah
singkat berdirinya sekolah
2) Tentang identitas
sekolah
3) Tentang lokasi
sekolah
4) Tentang visi dan misi
sekolah
5) Tentang keadaan guru
dan peserta didik di SDN 1 Bongkang.
6) Tentang pelatihan
yang pernah diikuti guru
7) Tentang keadaan saran
prasarana dan fasilitas di sekolah
Untuk menjelaskan tentang data, sumber data, dan teknik pengumpulan data
dapat dilihat pada tabel 3. 1 berikut.
Tabel 3. 1
Matrik Data, Sumber Data, dan Teknik Pengumpulan Data
No.
|
Data
|
Sumber data
|
Teknik Pengumpulan Data
|
1.
2.
|
Pelaksanaan
metode eksperimen terhadap konsep cahaya dengan pada kelas V SDN 1 Bongkang,
meliputi:
a) Persiapan
-
Kesesuaian metode eksperimen dengan bahan/materi konsep cahaya dan
tujuan/indikator pembelajaran konsep cahaya.
-
Persiapan pelaksanaan
b) Pelaksanaan
c) Evaluasi dan tindak
lanjut
Faktor-faktor
yang mempengaruhi dalam pelaksanaan metode eksperimen terhadap konsep cahaya
di SDN 1 Bongkang, meliputi:
a) Faktor guru,
meliputi:
(1) Latar belakang pendidikan
(2) Pengalaman mengajar dan Pelatihan
guru yang diikuti.
b) Faktor peserta
didik, meliputi
(1) Minat
(2) Keaktifan dan cara belajar
anak
|
Guru,
Silabus, RPP, dan dokument.
Guru
Guru
Guru.
Guru
Guru
Peserta
didik
Peserta
didik
|
Wawancara,
Observasi, dan Dokumenter
Observasi -
Wawancara
Observasi -
Wawancara
Observasi -
Wawancara
Wawancara
Wawancara
Wawancara - Observasi
|
Lanjutan dari tabel 3. 1
No.
|
Data
|
Sumber Data
|
Teknik Pengumpulan Data
|
3.
|
Data penunjang yang merupakan data
pelengkap dari data pokok dalam penelitian ini adalah:
1) Sejarah singkat
berdirinya SDN 1 Bongkang Kec. Haruai Kab. Tabalong.
2) Identitas sekolah
3) Lokasi sekolah
4) Visi dan Misi
sekolah
5) Keadaan saran
prasarana
6) Keadaan guru
7) Keadaan peserta
didik.
|
Kepala
Sekolah dan dokumentasi
Tata usaha -
Dokumentasi
Peserta didik.
|
Wawancara - Dokumenter
Wawancara - Dokumenter
Wawancara -
Dokumenter.
|
E. Teknik Pengolahan
Data dan Analisis Data
1.
Teknik Pengolahan Data
Penelitian ini setelah data dikumpulkan dilanjutkan dengan pengolahan data
menggunakan teknik sebagai berikut:
a. Editing, yaitu meneliti dan mengecek kembali
kelengkapan data-data yang diperoleh apakah sudah lengkap dan dapat dipahami.
b. Klasifikasi, yaitu
pengelompokkan data sesuai dengan jenis-jenis data yang diperoleh.
c. Interprestasi, teknik
ini digunakan agar dapat melihat kejelasan makna yang tersurat dan tersirat
dalam penyajian data, dengan menafsirkan data tersebut dalam bentuk narasi atau
uraian.
2.
Analisis Data
Menganalisis dapat yang telah terkumpul digunakan analisis deskriptif
kualitatif dalam penarikan kesimpulan digunakan metode induktif yaitu menarik
kesimpulan yang bersifat khusus menjadi suatu kesimpulan umum yang berkaitan
dengan bagaimana pelaksanaan metode eksperimen terhadap konsep cahaya di SDN 1
Bongkang Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong dan faktor-faktor yang
mempengaruhi pelaksanaan tersebut.
F. Prosedur
Penelitian
Dalam penelitian ini ada beberapa tahapan yang penulis lakukan, sebagai
berikut :
1.
Tahap Pendahuluan
a. Penjajakan awal ke
lokasi penelitian.
b. Membuat proposal
penelitian.
c. Mengajukan proposal penelitian
kepada dosen pembimbing akademik untuk dikoreksi dan disetujui.
d. Mengajukan proposal
penelitian ke Jurusan PGMI dan mohon persetujuan judul.
e. Mohon surat perintah
riset.
f. Menyiapkan daftar
pedoman wawancara, observasi, dan dokumenter.
2.
Tahap Pelaksanaan
a. Menghubungi responden
dan informan dengan cara yang telah direncanakan.
b. Mengumpulkan,
mengolah dan menganalisis data yang dikumpulkan dengan teknik-teknik yang telah
ditetapkan.
c. Menyempurnakan naskah
skripsi sesuai dengan saran pembimbing.
3.
Tahap Penyusunan Laporan
a. Dalam menyusun
laporan, penulis berkonsultasi dengan dosen pembimbing.
b. Pengetikan skripsi dengan sistematika yang
telah ditentukan.
c. Selanjutnya skripsi
dignadakan dan siap dibawa ke sidang munaqasah untuk dipertanggung jawabkan.
[19] Sugiono, Metode Penelitian
Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2010), h. 203.
[20] Sukardi, Metodologi Penelitian
Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), h. 79.
[1] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak
Didik Dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Renika Cipta, 2010), h. 22.
[2] DPR RI, Undang-Undang RI Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2007), h. 3.
[3] Bambang Murdaka Eka Jati, Tri
Kuntoro Priyambodo, Fisika Dasar untuk Mahapeserta didik Ilmu-ilmu Eksakta
dan Teknik, (Yogyakarta: Andi Offset, 2008), h. 2.
[4] Departemen Agama RI, Kurikulum Madrasah
Ibtidaiyah (Standar Kompetensi), (Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan
Agama Islam, 2004), h. 206.
[5] Nana Djumhana, Pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam, (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen
Agama RI, 2009), h. 42.
[6] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus
Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), Ke-1cet., edisi 3,
h. 488.
[7] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi
Belajar Mengajar, (Jakarta: Renika Cipta, 2002), h. 95.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar